Alunan Gending di GKJW Malang

Dec 26th, 2009 | By Micko Henry | Category: Artikel

Misa malam Natal di Kota Malang kemarin berlangsung khidmat. Mengangkat Tema Natal 2009 yang diadopsi dari Mazmur 145:9a: Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang, semua jemaat memanjatkan puji-pujian dan doa. Kendati mengangkat tema sama, namun masing-masing gereja memiliki ciri khas tersendiri.

Gereja Kristen Jawi Wetan GKJW Pasamuwan Malang misalnya, sekitar seribu jemaat yang memadati gereja di kawasan Jl KH Hasyim Asyari VI/5 itu kompak mengenakan batik. Alunan suara gamelan dan musik kulintang silih berganti menggema dari ruangan gereja yang dibangun pada 1929 itu.

Pdt Rudy Sewoyo, pelayan ibadah perayaan Natal GKJW Malang mengungkapkan bahwa memaknai tema Natal tahun ini tidak hanya berhenti pada pengakuan bahwa Tuhan itu baik pada semua orang. Tapi, lebih pada pembuktian tingkah laku. “Makna pertama yang bisa diambil ternyata manusia gagal memaknai Tuhan itu baik,” ungkapnya di sela-sela persiapan misa malam Natal, kemarin.

Faktanya, kata Rudy, manusia tetap berbuat keserakahan pada alam. Manusia tak hanya merusak alam, tapi juga mengeksploitasi. “Pola hidup rakus sudah merajalela. Karena itu harus ada perubahan ekstrem dalam memaknai Tuhan itu baik,” kata dia.

Makna kedua, lanjut Rudy, selama ini manusia telah gagal membangun relasi dengan sesama. Harusnya, sesama manusia saling bekerjasama dan berteman. Tapi yang terjadi malah jadi lawan yang harus dimusnahkan. “Sesama manusia yang harus dikasihi, ternyata masih banyak saling membenci. Aplikasinya adalah disharmonisasi dalam kehidupan,” beber pendeta yang bertugas di Malang sejak 2003 itu.

Melihat fenomena-fenomena itu, Rudy mengajak semua umat Kristiani dan umat manusia mengubah pola pikir. Karena yang mampu mengontrol sikap dan perbuatan adalah diri sendiri. “Kalau Tuhan itu bisa baik terhadap semua orang, mengapa sesama manusia tidak bisa?” tandasnya.

Jika perayaan misa malam Natal di GKJW Malang bernuansa tradisional Jawa, lain lagi dengan perayaan misa di Gereja Pantekosta Indonesia Barat GPIB Immanuel Malang Jl Merdeka Utara. Gereja yang juga termasuk salah satu bangunan bersejarah di Kota Malang itu disulap dengan tampilan modern.

Tempat mimbar dihiasi dengan pita berwarna emas dan merah. Sedangkan dinding-dindinnya dililit pita putih. Selain mengesankan nilai kesakralan, juga tampak lebih mewah. Begitu juga dengan busana yang dikenakan para jemaat. Semua tampak rapi dalam balutan pakaian bergaya modern. Sedangkan pendeta yang bertugas memberikan khotbah Natal adalah Pdt Nestor Manonahas STh.

Albert Aruan, kasi Adminsitrasi Umum GPIB Immanuel mengatakan, misa malam Natal dilakukan dua gelombang. Yakni, pukul 18.00 dan pukul 20.00. Sedangkan pagi ini kembali dilakukan misa tahap tahap pertama tepat pukul 08.00. Lalu dilanjutkan dengan misa Natal II pada 26 Agustus pukul 08.00 dengan agenda pembabtisan anak.

Sementara itu, pengamanan malam Natal yang dilakukan oleh polisi kemarin tidak terlalu ketat dibanding tahun lalu. Jika sebelum perayaan Natal dikerahkkan Unit Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Detasmen B Sat Brimob Polda Jatim, namun kemarin unit tersebut tidak terlihat.

Kapolresta Malang AKBP Daniel T.M Silitonga membenarkan tidak dikerahkannya jihandak dalam cipta kondisi pra-natal. “Secara umum kondisi Kota Malang cukup kondusif. Jadi penyisiran cukup dilakukan oleh anggota polisi,” katanya.

Lokasi penyisiran dilakukan di sejumlah sudut ruangan beberapa gereja. Salah satunya Gereja Paroki Hati Kudus Yesus di Kayutangan, Jl Basuki Rahmad, Klojen. Sebanyak 10 personel polisi melakukan penyisiran lokasi sejak pagi hingga siang.

sumber : jawapos

keyword : , , , , , , , , , , , ,

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post