Peggy Adeline Mekel Sukses di Bisnis, Bermanfaat bagi Gereja

Oct 28th, 2008 | By Micko Henry | Category: Artikel

dari : jawapos Selasa, 28 Oktober 2008

Pemudi yang satu ini, Peggy Adeline Mekel, baru berumur 30 tahun. Tapi, kiprahnya di Manado dan kota-kota lain di Pulau Sulawesi tak bisa dianggap remeh.

Peggy lahir di Desa Treman, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara (sekitar 30 meter arah utara Kota Manado), Sulawesi Utara. Saat ini, dia berkiprah di Business Partner Eastern Indonesian Sigma Capital, sebuah perusahaan yang bergerak di bisnis edukasi bidang investasi. Dari sinilah, dicetak bibit-bibit investor andal.

Sejak didirikan Peggy pada 2003, hingga kini jumlah member Sigma Capital mencapai 7.000 orang yang tersebar di empat daerah, masing-masing Manado, Gorontalo, Makassar, dan Balikpapan dengan total omzet pendapatan di atas Rp 5 miliar per tahun. Selain menjadi ketua Investor Club di Indonesia Timur, saat ini Peggy menjabat sebagai sekretaris jurusan International Business Administration (IBA) Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado. Di Unsrat, Peggy menjadi pemangku jabatan termuda sekaligus masuk dalam deretan tenaga pengajar termuda di kampus tersebut.

Bagaimana dia bisa meraih prestasi itu? “Ora et labora,” jawabnya ketika ditemui wartawan koran ini di ruang kantornya, Jl Wolter Monginsidi, Kelurahan Bahu, Kota Manado.

Peggy mengisahkan, sejak kecil, dirinya terbiasa hidup susah, meski sempat juga mengalami masa-masa hidup enak. Lahir sebagai anak ketiga di antara empat bersaudara, Peggy sempat mencicipi masa-masa hidup enak. Ketika itu adalah masa jaya ayahnya yang menjadi kontraktor. Titik balik terjadi ketika krisis keuangan menimpa keluarga.

“Saya harus berjalan kaki ke sekolah, padahal sebelumnya diantar,” cerita perempuan kelahiran 9 Oktober 1978 itu. Masa-masa susah perempuan berparas cantik tersebut terus berlanjut hingga di bangku kuliah.

Menginjak semester enam, dia sudah mampu membiayai diri sendiri dengan bekerja di salah satu perusahaan pertambangan yang berkantor di Manado. Saat itu, dia bekerja sambil kuliah.

“Saya berpikir, kalau orang lain bisa, tentu kita juga bisa,” ujarnya bersemangat. Alhasil, berkat ketekunannya,”pada 2002 dia lulus sarjana dengan nilai terbaik dan mendapatkan beasiswa S-2 ke Georgia State University Atlanta, Amerika Serikat, mengambil jurusan keuangan publik.

Lulus kuliah 2003, Peggy langsung balik ke kampus menjadi tenaga pengajar di IBA sesuai ikatan kontrak. “Saat itu, saya balik ke Indonesia karena ibu saya meninggal. Saya harus datang di pemakamannya,” ceritanya.

Pada tahun itu juga, Peggy dihadapkan pada dua pilihan. Kala itu, dia berhasil lulus tes untuk melanjutkan kuliah S-3 ke Australia dengan beasiswa dari Pemkab Minahasa. Namun, kesempatan tersebut tidak diambil. Dia lebih menekuni bisnis yang digelutinya hingga kini.

“Saat itu memang jadi pilihan. Kalau saya lebih memilih kuliah, artinya harus meninggalkan bisnis. Tapi, akhirnya saya harus memilih bisnis. Saya berani tidak ambil peluang emas tersebut berarti saya harus berhasil menjalankan bisnis,” tuturnya sembari menambahkan bahwa saat itu hanya dua orang yang lolos ke Australia di antara sekian banyak yang ikut seleksi.

Kini, apa yang digeluti Peggy boleh dibilang sukses. Tapi, bukan berarti Peggy lupa diri atau melupakan hal-hal yang berbau kemasyarakatan. Di tengah kesibukannya, dia mengaku tetap totalitas dalam pelayanan dan selalu mengandalkan Tuhan. Dalam hal apa pun, menurut dia, Tuhan jadi nomor satu.

“Soal prinsip, saya selalu berpegang pada hal memberi dulu. Give and be given,” imbuhnya.

Untuk kiprahnya di masyarakat, saat ini dia menjabat sebagai wakil ketua Pemuda Sinode GMIM, suatu organisasi gereja terbesar di Sulawesi Utara dan keempat terbesar di Indonesia. Organisasi itu membawahi kurang lebih 250 ribu anak muda gereja.

Tags: , ,

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post