Cornelis Nelwan, berpelayanan lewat Gospel Magic

Aug 31st, 2009 | By No God No Master | Category: Kesaksian

88000large Cornelis Nelwan, berpelayanan lewat Gospel MagicCornelis Nelwan pensiun sebagai field manager sebuah perusahaan farmasi pada 2002. Namun, sebagai pesulap, dia tidak kenal kata pensiun. Memasuki usia 67 tahun, Nelwan masih terus berlatih trik-trik sulap baru.

Profesi yang ditekuninya sejak 1972 itu jalan terus sampai sekarang. Hanya, seiring bertambahnya usia, order sulap yang diterima Cornelis memang tidak lagai seramai dulu. Kini dia lebih banyak bermain di acara ulang tahun anak-anak atau bermain di restoran atas undangan perusahaan tertentu.

Meski begitu, bukan berarti Cornelis lebih banyak menganggur. Lelaki yang bernama panggung Mustafa itu kini juga menekuni gospel magic. Permainan sulap yang satu itu, menurut dia, tak jauh beda dengan sulap yang biasa dia mainkan di panggung. Hanya, permainannya kini disesuaikan dengan firman Tuhan di Alkitab.

Menurut dia, gospel magic salah satu alternatif untuk menyampaikan firman kepada umat selain khotbah. Dengan cara itu, diharapkan penyampaian firman menjadi lebih menarik. Apalagi, sulap termasuk permainan yang disenangi hampir semua kalangan, mulai anak-anak hingga dewasa. ”Bila mereka menyukai permainan itu, diharapkan firman akan lebih dihayati,” ujarnya.

Bapak empat anak tersebut mengatakan mulai menekuni gospel magic saat mendapat tawaran mengisi kegiatan di salah satu persekutuan doa. Pengurus persekutuan doa itu kebetulan tahu profesi sampingan Cornelis sebagai pesulap. Karena itu, mereka meminta Cornelis tampil untuk memberikan nuansa beda.

Cornelis tak menolak. Bagi dia, permainan sulap bisa dimanfaatkan untuk menambah kekayaan rohani. ”Karena saya bisanya sulap, ya saya coba mencari pahala dari sulap,” ujar suami Ruth Nelwan yang mengaku masih terus berlatih sulap tersebut.

Akhirnya, tawaran gospel magic terus mengalir. Cornelis tidak lagi hanya tampil di salah satu persekutuan doa. Dia juga diminta tampil di persekutuan doa lain.

Sebelum tampil, tentu Cornelis harus membaca Alkitab. Setelah itu, baru dicari trik yang sesuai dengan firman yang akan diangkat. Cornelis mengaku tidak mengalami kesulitan. Sebab, menurut dia, permainan sulap sangat fleksibel. Apa saja bisa match.

Dia lalu mencontohkan trik Red Ash, yang disebutnya sebagai salah satu permainan favoritnya. Cornelis biasa dibawakan trik tersebut pada acara persekutuan doa.

Mulanya, Cornelis membakar pita kertas berwarna merah. Pita yang terbakar dan menjadi abu itu diibaratkannya sebagai hidup manusia yang tak abadi. ”Dari abu kembali menjadi abu,” katanya.

Abu pita yang bertebaran tersebut lantas dia kumpulkan dalam genggaman. Setelah itu, Cornelis menarik sesuatu dari genggaman berisi abu tersebut. Jreng, pita yang sudah terbakar menjadi abu tadi seolah menjadi utuh lagi.

”Maknanya, barang siapa percaya dan mengikuti Dia, mereka tidak akan binasa. Mereka memperoleh hidup kekal dan nanti akan bangkit kembali. Firman itu ada di dalam Alkitab,” jelasnya.

Menurut Cornelis, yang dilakukannya tersebut bukan hal aneh. Dia mengatakan, tidak sedikit pendeta yang berkhotbah dengan sulap. Bedanya, mereka tidak bermain sendiri. Mereka menggandeng seorang pesulap. Cornelis melakukan keduanya sekaligus. Meski demikian, dia menolak disebut pendeta.

Yakinkan Bukan Sihir, Buka Trik
SULAP dan sihir merupakan dua hal yang berbeda. Meski begitu, masih banyak yang menyamakan sulap dengan sihir, penyulap dengan penyihir. Cornelis pernah kena getah oleh anggapan itu. Alih-alih menyenangkan hati orang dengan sulap, dia malah dicap tukang sihir. Kemampuannya menyulap sesuatu dengan sekedip mata dituding karena kuasa hitam.

Gara-gara anggapan tersebut, pertunjukan Cornelis pernah dihentikan penonton saat sang pesulap tampil dalam sebuah resepsi pernikahan di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Penonton itu bilang, Cornelis menyesatkan banyak orang dengan pertunjukan hitam. ”Saya kaget juga dianggap penyihir,” kata suami Ruth Nelwan itu, lantas tersenyum.

Cornelis juga pernah dianggap melanggar hukum ketika menyulap uang Rp 1.000 menjadi Rp 10 ribu. ”Mereka menganggap lembaran Rp 10 ribu itu uang palsu. Padahal, itu asli uang beneran,” katanya.

Menurut Cornelis, dia jelas tidak benar-benar mengubah uang Rp 1.000 yang dimintanya dari penonton itu menjadi uang Rp 10 ribu. Sebetulnya, dia sudah menyiapkan selembar uang Rp 10 ribu saat meminta selembar uang Rp 1.000 dari penonton. Dengan trik dan kecepatan, lembar uang seribu rupiah tersebut diganti dengan uang sepuluh ribu yang telah disiapkannya. ”Jadi, uang itu asli,” katanya.

Sepertinya, paling tidak menurut pengalaman Cornelis, tidak semua orang memahami bahwa ”keajaiban” yang diperlihatkan pesulap itu murni trik. Mereka mampu menghilangkan benda atau mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain sepenuhnya karena bantuan alat dan sedikit bubuhan tipu muslihat. Tidak ada unsur klenik sama sekali. ”Saya sudah mencoba menjelaskan. Tapi, tetap saja ada yang tidak percaya,” ujarnya.

Dia menambahkan, tidak hanya pesulap klasik seperti dirinya yang menggunakan trik. Pesulap kondang seperti David Copperfield pun melakukan hal yang sama. ”Yang dilakukan David saat menghilangkan pesawat itu juga hanya akal-akalan. Ada alatnya. Dia tidak minta bantuan makhluk halus untuk itu,” jelasnya.

Cornelis juga pernah membuka trik tipuannya di hadapan para pemuka gereja yang menganggapnya menggunakan kuasa hitam. Diperlihatkannya secara gamblang trik yang dia pakai, juga bagaimana dia melakukan tipuan tersebut.

Salah satu trik yang dibebernya adalah permainan membuat tiga tali beda panjang menjadi sama panjang. ”Trik itu gampang saja. Tali tersebut hanya ditekuk supaya kelihatan sama panjang. Setelah saya perlihatkan caranya, baru mereka percaya semua itu hanya permainan,” lanjut kakek sebelas cucu tersebut.

Meski disesalkan, protes-protes itu sesungguhnya menumbuhkan kebanggaan bagi pesulap. Sebab, itu berarti si pesulap mampu memperlihatkan trik yang demikian halus dan natural sehingga terlihat seperti sungguhan. ”Itu kan berarti kami berhasil. Untuk bisa bermain natural seperti itu, ya harus sering berlatih,” tuturnya.

sumber jawapos Minggu, 30 Agustus 2009

keyword : , , , , ,

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post