<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>GKJW CARUBAN</title>
	<atom:link href="http://www.gkjwcaruban.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gkjwcaruban.org</link>
	<description>Greja  Kristen Jawi Wetan Caruban</description>
	<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 02:27:36 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>TIPS MELAMAR KERJA - BELAJAR DARI CINTA LAURA DAN TUKUL ARWANA</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/tips/tips-melamar-kerja-belajar-dari-cinta-laura-dan-tukul-arwana.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/tips/tips-melamar-kerja-belajar-dari-cinta-laura-dan-tukul-arwana.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 02:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<category><![CDATA[Cinta Laura]]></category>

		<category><![CDATA[melamar kerja]]></category>

		<category><![CDATA[Tukul Arwana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Anda sedang melamar kerja dan diwawancarai, biasanya staf bagian personalia akan bertanya: “Bisakah Anda menyebutkan, apa yang menjadi kekurangan atau kelemahan Anda?”
Kekurangan atau kelemahan biasanya dianggap negatif, dan kita jarang mau mengakuinya. Kita semua pasti punya kekurangan. Tetapi, bagaimana caranya agar hal yang negatif itu bisa terdengar positif?

Nah, kalau mau tahu jawabnya, belajarlah dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau Anda sedang <strong>melamar kerja</strong> dan diwawancarai, biasanya staf bagian personalia akan bertanya: “<strong>Bisakah Anda menyebutkan, apa yang menjadi kekurangan atau kelemahan Anda?</strong>”<br />
Kekurangan atau kelemahan biasanya dianggap negatif, dan kita jarang mau mengakuinya. Kita semua pasti punya kekurangan. Tetapi, bagaimana caranya agar hal yang negatif itu bisa terdengar positif?</p>
<p><img src="http://www.detikhot.com/images/content/2008/07/03/230/cintalaura_285.JPG" alt="" /><br />
Nah, kalau mau tahu jawabnya, belajarlah dari artis <strong>Cinta Laura</strong>, yang terkenal tak becus melafalkan becek atau ojek itu. Ketidakmampuan artis blasteran ini berbahasa Indonesia dengan benar seharusnya menjadi kelemahan. Tetapi, siapa menyangka, kelemahannya itu justru menjadi sumber rezeki. Suara Cinta Laura dijadikan ring tone telepon seluler oleh Telkomsel, tentunya dengan dihargai mahal. Singkatnya, apa yang dianggap negatif atau kekurangan, justru bisa berarti positif dan menguntungkan!</p>
<p><img src="http://img118.imageshack.us/img118/6881/18feb07tukul2um8.jpg" alt="" /><br />
Contoh lain yang berhasil mengubah kelemahan menjadi keuntungan adalah pelawak dan presenter <strong>Tukul Arwana</strong>. Figur yang melejit lewat program tayangan Empat Mata di Trans-7 ini justru kebalikan dari Cinta Laura. Jika Cinta Laura fasih berbahasa Inggris namun tidak fasih berbahasa Indonesia, Tukul justru sama sekali tidak becus berbahasa Inggris.</p>
<p>Hebatnya Tukul, dia justru menjadikan ketidakfasihan berbahasa Inggris itu sebagai materi lawakan spontan, dengan taktik menjadikan diri sendiri sebagai bahan tertawaan. Penonton pun tertawa melihat Tukul yang sok berbahasa Inggris, dan menyebut-nyebut States (maksudnya United States of America) serta hal-hal berbau luar negeri (meski dia jelas tidak pernah ke sana!).</p>
<p>Dua contoh ini menunjukkan, pengertian “kelemahan” bisa jadi relatif. Orang yang kreatif bisa memanfaatkan titik lemahnya sendiri menjadi kekuatan, atau keunggulan, karena orang lain tidak bisa menirunya.</p>
<p>Kalau saya sih mungkin tidak sekaliber Cinta Laura atau Tukul, namun saya berusaha main akal-akalan. Saya sudah mempraktikkannya, ketika melamar kerja sebagai wartawan.<br />
Sewaktu ditanya soal kelemahan oleh staf personalia, saya menjawab: “Kelemahan saya adalah saya orang yang tidak sabaran dan suka marah-marah. Ekspresi semacam itu sering muncul ketika saya masih kerja di kantor saya yang lama.”</p>
<p>“Hal apa yang membuat Anda tidak sabaran dan marah-marah?” tanya si pewawancara.</p>
<p>“Terus terang, saya paling tidak sabaran, jika melihat rekan-rekan saya bekerja lambat. Padahal naskah tulisan saya sudah selesai, dan tinggal menunggu naskah mereka. Jika sudah begitu, saya suka marah-marah! Di dunia jurnalistik kita kan bekerja secara kolektif. Percuma dong saya kerja cepat, jika akhirnya berita terlambat gara-gara yang lain tidak bisa mengikuti irama kerja saya,” tutur saya.</p>
<p>Paham maksud saya? Jadi, meskipun saya menyebut hal itu sebagai kelemahan dan sisi negatif, sebenarnya saya justru mempromosikan kehebatan dan sisi positif saya. Yaitu, saya biasa bekerja cepat, dan mengungguli rekan-rekan sekerja lain di kantor!</p>
<p>Oleh Satrio Arismunandar<br />
produser &#038; script writer trans tv</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/tips/tips-melamar-kerja-belajar-dari-cinta-laura-dan-tukul-arwana.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Powers to Lead : Kepemimpinan Lembut nan Cerdik</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/resensi/the-powers-to-lead-kepemimpinan-lembut-nan-cerdik.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/resensi/the-powers-to-lead-kepemimpinan-lembut-nan-cerdik.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 01:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<category><![CDATA[Barack Obama]]></category>

		<category><![CDATA[Franco]]></category>

		<category><![CDATA[gaya kepemimpinan]]></category>

		<category><![CDATA[Hitler]]></category>

		<category><![CDATA[ilmu pemerintahan]]></category>

		<category><![CDATA[Joseph S. Nye Jr]]></category>

		<category><![CDATA[kepemimpinan adalah seni]]></category>

		<category><![CDATA[Mussolini]]></category>

		<category><![CDATA[Oxford University Press]]></category>

		<category><![CDATA[resensi buku]]></category>

		<category><![CDATA[seni memimpin]]></category>

		<category><![CDATA[Soft Power']]></category>

		<category><![CDATA[Stalin]]></category>

		<category><![CDATA[The Powers to Lead]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[
Seiring dengan terpilihnya Barack Obama sebagai presiden AS, warga dunia sangat mengharapkan perubahan gaya kepemimpinan di Gedung Putih yang pada gilirannya kelak bisa mempengaruhi situasi dunia. Gaya kepemimpinan kaum neo-konservatif AS seperti George W. Bush Jr. selama ini terbukti lebih banyak membuat warga AS merugi terus daripada untung. Kalaupun dapat untung, maka hal itu cuma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.jawapos.com/imgall/11/imgori/44541large.jpg" alt="" /><br />
Seiring dengan terpilihnya <strong>Barack Obama</strong> sebagai presiden AS, warga dunia sangat mengharapkan perubahan gaya kepemimpinan di Gedung Putih yang pada gilirannya kelak bisa mempengaruhi situasi dunia. Gaya kepemimpinan kaum neo-konservatif AS seperti George W. Bush Jr. selama ini terbukti lebih banyak membuat warga AS merugi terus daripada untung. Kalaupun dapat untung, maka hal itu cuma dinikmati segelintir orang di sekitar Bush. Sementara akibat kebijakan Bush yang bertangan besi, sudah banyak membuat orang sengsara. Oleh karena itu, slogan Obama yang berbunyi &#8221;Change, we believe in&#8221; sesungguhnya merupakan pintu masuk untuk merombak gaya kepemimpinan walaupun saat ini sudah banyak pula orang yang mulai ragu pada slogan itu, untuk bisa dipraktikkan di tengah kepungan kaum neo-konservatif. Kaum ini tak mengenal pemimpin, mereka hanya tahu penguasa. </p>
<p>Pemimpin bukanlah penguasa karena ia lahir bukan hendak semata menguasai, melainkan pemimpin dilahirkan untuk membimbing masyarakat menuju ketenteraman dan kemakmuran. Pemimpin yang hanya ingin memakmurkan masyarakatnya dengan segala macam cara, termasuk cara kekerasan yang dihalalkan, jelas akan membawa petaka. Seperti tampak pada beberapa tahun belakangan ini ketika kepemimpinan Presiden AS George W. Bush, yang lebih menonjolkan kekerasan untuk menguasai ladang-ladang minyak di kawasan Asia Tengah dan Timur Tengah. Bush lebih suka cara kekerasan dengan mengeksploitasi tragedi 11 September 2001, ketimbang menggunakan pola cerdik berdiplomasi. Kepemimpinan semacam ini kontras sekali dengan masa kepresidenan Bill Clinton, yang cenderung mengedepankan cara-cara budaya dan diplomasi. </p>
<p>Buku ini merupakan kelanjutan karya mahaguru <strong>ilmu pemerintahan</strong> JFK School of Government Universitas Harvard, Joseph Nye. Karya Nye sebelumnya yang berjudul &#8221;<strong>Soft Power&#8217;</strong>&#8216; (2004) menarik perhatian karena membuka kembali wacana kekuasaan yang mempunyai perlekatan dengan sejarah umat manusia. Kepemimpinan dalam sejarah umat manusia merupakan soal gaya dan karakter. Gaya kepemimpinan keras selalu mengutamakan cara-cara cepat, kasar, dan seringkali brutal. Sebaliknya, gaya kepemimpinan lembut selalu mengutamakan pendekatan dan pengaruh. Nye membedakan secara tegas antara dua gaya kepemimpinan itu sekaligus dampak yang bisa ditimbulkannya. Bagi Nye, <strong>gaya kepemimpinan</strong> ini cenderung destruktif. Gaya kepemimpinan keras (hardpower) memang bisa dijalankan secara cepat dan memaksa, seperti yang diperlihatkan para diktator dalam sejarah politik dan kekuasaan umat manusia. </p>
<p>Tentu saja, mencapai dan mempertahankan kekuasaan dengan cara kekerasan bukanlah jalan satu-satunya bagi seorang calon pemimpin atau pemimpin yang ingin terus berkuasa. Melainkan, dengan cara lembut pun kekuasaan bisa digenggam. Jalan lembut kekuasaan ini mewujud pada diplomasi, dialog atau negosiasi. Faktor penting dalam gaya kepemimpinan lembut ini adalah pengaruh terhadap objek kekuasaan. Jika objek itu adalah masyarakat, maka seorang pemimpin dengan gaya softpower akan lebih memilih cara-cara damai dalam menyelesaikan berbagai masalah. </p>
<p>Cara damai seperti perundingan antara juru-runding RI dan GAM pada Agustus 2005 terbukti sampai sejauh ini berhasil meredam gejolak di tanah rencong itu. Memang, ada sebagian pihak yang menilai perundingan itu menunjukkan kelemahan dari pihak perunding, namun sesungguhnya efektivitas perundingan-lah yang terpenting. </p>
<p>Entah kebetulan atau tidak, buku Nye yang pertama itu diterbitkan setahun sebelum perjanjian Helsinki Agustus 2005 yang mengakhiri kekerasan antara RI versus GAM. Walau tidak terkait langsung dengan perjanjian itu, jelas sekali tergambar arah baru dunia saat ini ketika para pihak ingin menyelesaikan sengketa tidak melulu bersifat zero sum game, melainkan semua pihak bersengketa layak memperoleh kekuasaan untuk menang atau win-win solution. </p>
<p>Nye berhasil membaca tanda-tanda zaman ini bahwa kekerasan bukan lagi mode satu-satunya untuk menguasai sebuah objek. Menurutnya, kelembutan dibutuhkan dalam proses-proses penyelesaian masalah antar-pihak, utamanya untuk menggapai puncak kepemimpinan. Selain diperlukan cara lembut, ditambah pula cara cerdik tanpa kekerasan perlu bagi seorang pemimpin. Kelembutan dalam kepemimpinan menunjukkan kearifan menyelesaikan masalah. Gaya kepemimpinan lembut semacam itu kiranya sudah mulai jamak ditemui dalam forum-forum lintas negara atau ketika para pemimpin negara saling bertemu untuk membahas sebuah masalah global lainnya. </p>
<p>Nye bertumpu pada argumen historis, bahwa sejarah kepemimpinan umat manusia menunjukkan sang pemimpin yang selalu menggunakan kekerasan terbukti sangat mahal dan bisa menyedot sumberdaya habis-habisan. Para pemimpin dunia yang memakai kekerasan untuk meraih sekaligus mempertahankan kekuasaan terbukti harus mengeluarkan ongkos besar. <strong>Hitler</strong> (Jerman), <strong>Mussolini </strong>(Italia), <strong>Franco</strong> (Spanyol), <strong>Stalin</strong> (Rusia), dan pemimpin bengis lain perlu menguras biaya negara luar biasa besar agar bisa terus menciptakan ketakutan, teror, serta ketundukan total rakyatnya. Para diktator itu hanya memikirkan bagaimana cara efektif menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka menciptakan gaya kepemimpinan otoriter yang menghalalkan kekerasan atas nama demi stabilitas nasional. Kalaupun harus mempraktikkan rayuan kepada lawan-lawan politik, ternyata kemudian seringkali ketundukan lawan-lawan politik dari para diktator ini muncul akibat takut atau pasrah. Bukan dikarenakan merasa ikut bersama di bawah sebuah kepemimpinan. </p>
<p>Agaknya, belakangan ini tema kepemimpinan terus menghangat seiring dengan perkembangan sosial-politik di tanah air. Ketika Pemilu 2009 semakin dekat pada saat bersamaan mulai muncul para calon presiden alternatif. Oleh karena itu, semakin banyak latihan kepemimpinan yang diperlukan oleh seorang calon pemimpin, selain khalayak luas di luar bidang pemerintahan dan politik. Kalangan bisnis dan non-politik lainnya juga terlihat sangat berminat, terutama untuk pembentukan karakter yang bertujuan membentuk sikap seorang pemimpin. Latihan yang terstruktur dengan baik, secara berkelanjutan diharapkan bisa membangun sikap kepemimpinan dalam bidang-bidang tertentu. Akan tetapi, tulis Nye, banyak pakar yang berpendapat bahwa kepemimpinan otentik bersifat alamiah. Sejarah kuno telah menunjukkan hal itu. Para pemimpin merupakan sosok yang dilahirkan, bukan dibentuk melalui latihan. Pemimpin dilahirkan oleh komunitas, tidak dibentuk oleh latihan yang dibuat komunitas tersebut. Namun demikian, Nye cenderung sepakat pada pelatihan kepemimpinan dengan menyatakan bahwa dalam dunia modern pemimpin itu dibentuk, bukan dilahirkan.</p>
<p>Menurut Nye lagi, <strong>kepemimpinan adalah seni</strong>, bukan sains. Oleh karena itu, <strong>seni memimpin</strong> merupakan perwujudan kedalaman rasa, bukan semata logika kekuasaan. Dalam praktik kepemimpinan, seni memimpin tidak hanya berasal dari mereka yang berada di puncak pemerintahan, melainkan para CEO perusahaan pun sering menyumbangkan pola kepemimpinan yang layak untuk dikaji (hlm. 74). Kepemimpinan kaku yang hanya bertumpu pada protokoler baku sekarang sudah harus ditinjau-ulang. Kepemimpinan semacam ini terbukti telah menjauhkan sang pemimpin dari mereka yang dipimpin. Mekanisme umpan-balik dalam hubungan atas-bawah yang diperlihatkan dari masukan para pekerja kepada atasan mereka bisa menjadi contoh untuk tata kelola pemerintahan yang partisipatoris.</p>
<p>Kepemimpinan cerdik dengan mekanisme umpan-balik tepat, bisa menggeser gaya kepemimpinan yang bertumpu pada kekuasaan keras (hard power) atau kepada kekuasaan lunak (soft power). Tidak lagi diperlukan gertakan, ancaman atau memasang muka sangar hanya untuk mempertahankan kekuasaan, melainkan cukup menunjukkan rasa empati yang tulus, sikap simpati serta dialog emansipatoris. Maka, seorang pemimpin bisa menyelami alam pikir dan rasa dari mereka yang dipimpin. Proses seperti ini bukan hanya layak dilakukan saat akan meraih kekuasaan, namun saat berada di puncak kekuasaan pun seorang pemimpin harus melakukannya jika ia hendak menaklukkan &#8221;hati dan pikiran&#8221; (heart and mind) yang dipimpinnya. Nye mengamati justru pada proses inilah yang tersulit sebab seringkali para pimpinan tak sadar jika ia telah menggunakan kekuasaan keras, bukan lunak. </p>
<p>Judul buku : The Powers to Lead<br />
Pengarang : Joseph S. Nye Jr<br />
Penerbit : Oxford University Press, UK<br />
Cetakan : I, Oktober 2008<br />
Tebal : 226 halaman</p>
<p><em>JPNN</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/resensi/the-powers-to-lead-kepemimpinan-lembut-nan-cerdik.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Pelita</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/renungan/jadilah-pelita.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/renungan/jadilah-pelita.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 05:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[Jadilah Pelita]]></category>

		<category><![CDATA[renungan kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[      Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: &#8220;Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.&#8221; Dengan lembut sahabatnya menjawab, &#8220;Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>      Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: &#8220;Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.&#8221; Dengan lembut sahabatnya menjawab, &#8220;Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.&#8221; Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, &#8220;Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!&#8221; Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.</p>
<p>      Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, &#8220;Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!&#8221; Pejalan itu menukas, &#8220;Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!&#8221; Si buta tertegun&#8230;. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, &#8220;Oh, maaf, sayalah yang &#8216;buta&#8217;, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.&#8221;</p>
<p>      Si buta tersipu menjawab, &#8220;Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.&#8221; Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.</p>
<p>      Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, &#8220;Maaf, apakah pelita saya padam?&#8221; Penabraknya menjawab, &#8220;Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.&#8221; Senyap sejenak&#8230; secara berbarengan mereka bertanya, &#8220;Apakah Anda orang buta?&#8221; Secara serempak pun mereka menjawab, &#8220;Iya&#8230;,&#8221; sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.</p>
<p>      Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, &#8220;Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.&#8221;</p>
<p>      Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).</p>
<p>      Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan &#8220;pulang&#8221;, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.</p>
<p>      Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk &#8220;membuta&#8221; walaupun mereka bisa melihat. Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.</p>
<p>      Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.</p>
<p><em>http://weblog.xanga.com/femalle</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/renungan/jadilah-pelita.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sunatha Tanjung, rocker jadi pendeta</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/sunatha-tanjung-rocker-jadi-pendeta.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/sunatha-tanjung-rocker-jadi-pendeta.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 04:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<category><![CDATA[aktivis gereja]]></category>

		<category><![CDATA[Gereja Bethany Surabaya]]></category>

		<category><![CDATA[Gereja Kristen Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Gereja Kristen Jawi Wetan]]></category>

		<category><![CDATA[Gereja Protestan di Indonesia Barat]]></category>

		<category><![CDATA[GKI]]></category>

		<category><![CDATA[gkjw]]></category>

		<category><![CDATA[GPIB]]></category>

		<category><![CDATA[jadi pendeta]]></category>

		<category><![CDATA[Melayani Tuhan]]></category>

		<category><![CDATA[mukjizat penyembuhan]]></category>

		<category><![CDATA[music ministry]]></category>

		<category><![CDATA[Nginden Intan]]></category>

		<category><![CDATA[Sang Pencipta]]></category>

		<category><![CDATA[Sunatha Tanjung]]></category>

		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[
KI-KA: Sunatha Tanjung, Arthur Kaunang, Syech Abidin, tiga personel SAS berpose pada 1980-an. Sekarang band ini bubar karena para personel menekuni kehidupan baru.
Beberapa waktu lalu saya bertemu Pak Sunatha Tanjung. Dia bukan lagi bintang rock, gitaris hebat, tapi sudah jadi pendeta. Pendeta Muda Sunatha Tanjung. Dia dipercaya menangani pelayanan musik di Gereja Bethany Surabaya. Kebetulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://bp3.blogger.com/_19j87EQervM/SESupJHRrnI/AAAAAAAABx0/HYQ9JB6hCzY/s320/sas.jpg" alt="" /><br />
KI-KA: Sunatha Tanjung, Arthur Kaunang, Syech Abidin, tiga personel SAS berpose pada 1980-an. Sekarang band ini bubar karena para personel menekuni kehidupan baru.</p>
<p>Beberapa waktu lalu saya bertemu Pak Sunatha Tanjung. Dia bukan lagi bintang rock, gitaris hebat, tapi sudah <strong>jadi pendeta</strong>. Pendeta Muda Sunatha Tanjung. Dia dipercaya menangani pelayanan musik di <strong>Gereja Bethany Surabaya</strong>. Kebetulan gereja beraliran karismatik ini memang menggunakan musi pop rohani untuk kebaktian-kebaktiannya. Musik rock, pop ber-beat kencang, sangat populer di Bethany. Lain sekali dengan suasana kebaktian di gereja-gereja Protestan lama macam GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), GPIB (Gereja Protestan di Indonesia Barat), atau GKI (Gereja Kristen Indonesia).</p>
<p>&#8220;Sudahlah, itu semua masa lalu. Sekarang saya menekuni pekerjaan baru. <strong>Melayani Tuhan</strong> dengan lebih intensif,&#8221; ujar Pak Sunatha.</p>
<p>Pendeta pemusik ini selalu ramah, tersenyum, bicara dengan nada rendah. Sama sekali tidak ada eksan sangar seperti saat main bersama AKA atau SAS sebelum 1990-an. Profesi baru, panggilan baru, gemblengan rohani ala Bethany membuatnya berubah.</p>
<p>&#8220;Tuhan yang mengubah hidup saya. Dan saya menemukan kebahagiaan dengan bekerja seperti sekarang. Ingat, popularitas di masa lalu, ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Dulu saya jauh dari Tuhan. Gak pernah ke gereja. Gak berdoa, gak puasa. Saya seperti orang hilang,&#8221; ungkap Pak Sunatha.</p>
<p>Sekitar 1987 Sunatha bersama teman-temannya manggung di sebuah kota Jawa Timur. Penonton histeris. Para pemusik makin kesetanan. Tanpa diduga-duga terjadi korsleting. Gitaris hebat ini langsung lumpuh tangan kanannya. Konser pun bubar. Meski ditangani dokter hebat, rumah sakit mahal, tangan Sunatha tak kunjung pulih. Padahal, anggota badan itu sangat penting bagi kariernya.</p>
<p>Bagaimana dia bisa cari makan kalau tangannya tidak bisa dipakai main gitar? &#8220;Sejak itu karier musik saya selesai. Sudah waktunya bagi saya untuk istirahat dari hiruk-pikuk industri musik,&#8221; kenangnya.</p>
<p>Selama mengalami kelumpuhan, Sunatha Tanjung dibesuk para <strong>aktivis gereja</strong>. Mereka berdoa minta Tuhan memberikan <strong>mukjizat penyembuhan</strong>. Di pihak lain, Sunatha yang dulu malas berdoa, jarang menyapa Tuhan, semakin mendekatkan diri pada <strong>Sang Pencipta</strong>. &#8220;Kelumpuhan itu ternyata merupakan cara Tuhan untuk menyapa saya. Tuhan punya rencana lain atas saya,&#8221; katanya.</p>
<p>Singkat cerita, suatu ketika, setelah didoakan, tangan Sunatha bisa digerakkan. Kuat lagi seperti sedia kala. Sebagai ungkapan terima kasih dan syukur, Sunatha berniat memberikan diri dan talentanya untuk Tuhan. Gereja Bethany pun tak menyia-nyiakan talenta Sunatha untuk menata <strong>music ministry</strong> di gereja yang bermarkas di kawasan Nginden Intan, Surabaya, itu. Saya beberapa kali menyaksikan gaya Sunatha Tanjung setelah bergelar pendeta muda. Mainnya tetap ciamik, selalu senyum, sangat menikmati musiknya.</p>
<p>&#8220;Kalau dulu saya main musik untuk memuaskan penonton, cari nafkah, cari popularitas, sekarang main musik untuk memuliakan nama Tuhan. Tuhan kita itu sungguh luar biasa. Haleluya!&#8221; ujar Pak Sunatha.</p>
<p>Para penyelenggara konser musik nostalgia di Surabaya berusaha mengajak Sunatha untuk reuni bersama Athur Kaunang dan Syech Abidin. Tidak usaha banyak lagu, cukup beberapa untuk memenuhi keinginan para penggemar rock klasik Indonesia. Arthur&#8211;yang juga makin religius, sempat bikin album rohani alias gospel&#8211;sudah bersedia. Begitu juga Syech. Tapi Sunatha tetap bergeming. Dia tetap fokus di Bethany dan menolak manggung lagi.</p>
<p>Sunatha sekarang beda dengan dulu. Lain dengan Ucok AKA Harahap yang masih terus berusaha mencari job ke mana-mana meskipun penggemarnya sudah tidak ada lagi. Juga Arthur yang masik suka mendemonstrasikan kepiawaiannya bermain bas, keyboard, dan menyanyikan nomor-nomor kencang ala classic rock.</p>
<p>Begitulah. Nasib bintang rock Indonesia di hari tua memang berbeda-beda. Ada yang menjadi pendeta atau kiai [macam Gito Rollies atau Hari Moekti], tapi ada juga yang dipenjara gara-gara kasus narkoba macam Achmad Albar. Rock! Rock! Rock! Yeah!!!! </p>
<p><em>http://hurek.blogspot.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/sunatha-tanjung-rocker-jadi-pendeta.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sri Hadijanto, Pendeta Greja Kristen Jawi Wetan Jemaat Surabaya</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/sri-hadijanto-pendeta-greja-kristen-jawi-wetan-jemaat-surabaya.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/sri-hadijanto-pendeta-greja-kristen-jawi-wetan-jemaat-surabaya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 02:53:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[gkjw]]></category>

		<category><![CDATA[GKJW Jemaat Surabaya]]></category>

		<category><![CDATA[Greja Kristen Jawi Wetan]]></category>

		<category><![CDATA[Greja Kristen Jawi Wetan Jemaat Surabaya]]></category>

		<category><![CDATA[Pendeta Anto]]></category>

		<category><![CDATA[pendeta GKJW]]></category>

		<category><![CDATA[Pendeta Greja Kristen Jawi Wetan]]></category>

		<category><![CDATA[Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana]]></category>

		<category><![CDATA[Sri Hadijanto]]></category>

		<category><![CDATA[Universitas Duta Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/warta-gkjw-caruban/sri-hadijanto-pendeta-greja-kristen-jawi-wetan-jemaat-surabaya.html</guid>
		<description><![CDATA[Senang Tinggal di Surabaya Ketimbang di Utrecht
Sudah delapan tahun ini Greja (baca: Grejo) Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Surabaya, Jalan Prof Dr Moestopo, dipimpin Sri Hadijanto. Dia adalah salah satu pendeta yang pernah bertugas di Belanda. Di usia 58, dia lebih senang berada di Surabaya.
HARI itu, 24 Desember 2008, nuansa perayaan malam Natal di GKJW [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senang Tinggal di Surabaya Ketimbang di Utrecht<br />
Sudah delapan tahun ini Greja (baca: Grejo) Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Surabaya, Jalan Prof Dr Moestopo, dipimpin Sri Hadijanto. Dia adalah salah satu pendeta yang pernah bertugas di Belanda. Di usia 58, dia lebih senang berada di Surabaya.</p>
<p>HARI itu, 24 Desember 2008, nuansa perayaan malam Natal di GKJW Jemaat Surabaya sangat berbeda. Jenaka, tapi tak mengurangi nuansa religius. Tokoh pewayangan Punakawan yang terdiri atas Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, hadir untuk memeriahkan Operet Natal yang dimulai pukul 18.30 itu. </p>
<p>Seorang pria dengan jubah khas pendeta terlihat sangat serius menikmati pertunjukan tersebut. Sesekali dia membenarkan kaca matanya sambil menghafalkan teks naskah yang harus dia bacakan di akhir rangkaian drama itu.</p>
<p>Pria itu adalah gembala GKJW Pendeta Sri Hadijanto. Meski sudah biasa membawakan firman setiap minggu di depan jemaat, dia mengaku cukup tegang dengan perannya kali ini. &#8221;Di operet ini sebenarnya saya juga berperan sama sebagai pendeta, tapi ada beberapa teks yang harus dihafal,&#8221; katanya.</p>
<p>Pendeta yang akrab dipanggil Anto itu adalah lulusan Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana (sekarang Universitas Duta Wacana, Red) Jogjakarta.</p>
<p>Dia salah satu pendeta dari GKJW yang pernah menjadi perwakilan pendeta Indonesia di Kota Utrecht, Belanda, selama empat tahun, 1994-1998. &#8221;Saya ditunjuk untuk bekerja di sana di sebuah gereja bernama Nederland Hervormde Kerk (NHK),&#8221; katanya.</p>
<p>Pendeta Anto datang ke Utrecht untuk memberikan pelajaran kepada para pemuka gereja dan umat Kristen di Belanda. &#8221;Mereka ingin tahu bagaimana kekristenan di negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim,&#8221; ungkap pria asli Semarang itu. </p>
<p>Dia menemukan, kekristenan di Belanda lebih dewasa dibanding Indonesia. Di sana, menurut dia, yang dibahas dalam kekristenan bukan lagi mengenai hal-hal yang bertujuan untuk pribadi, tapi lebih pada hal-hal yang bersifat untuk sesama. &#8221;Kemanusiaan, pluralisme, dan hak untuk hidup, adalah tema-tema yang banyak dibicarakan,&#8221; ujar pria kelahiran 28 November 1950 tersebut. </p>
<p>Sekarang di usianya yang sudah 58 tahun, dia ingin menghabiskan masa kerjanya sebagai pendeta yang kurang dua tahun lagi di Surabaya. Karena itu, dia lebih senang berada di Kota Pahlawan ini. &#8221;Di sini kehidupan jemaatnya lebih beragam sehingga saya lebih merasa hidup ini sangat bervariasi,&#8221; ungkap pria yang sudah 28 tahun menjadi pendeta itu.</p>
<p>jawapos Sabtu, 03 Januari 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/sri-hadijanto-pendeta-greja-kristen-jawi-wetan-jemaat-surabaya.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cangkrukan Ala Pendeta GKI</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/cangkrukan-ala-pendeta-gki.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/cangkrukan-ala-pendeta-gki.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 00:55:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Gereja Kristen Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[GKI]]></category>

		<category><![CDATA[GKI Mojokerto]]></category>

		<category><![CDATA[Ikatan Kerukunan Umat Beragama]]></category>

		<category><![CDATA[Lembaga Seni GMKI]]></category>

		<category><![CDATA[Muhammadiyah]]></category>

		<category><![CDATA[Pendeta GKI]]></category>

		<category><![CDATA[Pendeta Simon Filangthrope]]></category>

		<category><![CDATA[Taruna Siaga Nasional]]></category>

		<category><![CDATA[UK Petra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[KEMANUSIAAN, perdamaian, dan saling tolong menolong antar umat beragama adalah tema seru yang dibicarakan puluhan orang lintas agama dalam acara Open House perayaan Natal dan Tahun Baru Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Timur di Gedung serbaguna GKI Diponegoro, Jalan Raya Diponegoro, kemarin (02/1).
&#8221;Kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat Surabaya dan Jawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEMANUSIAAN, perdamaian, dan saling tolong menolong antar umat beragama adalah tema seru yang dibicarakan puluhan orang lintas agama dalam acara Open House perayaan Natal dan Tahun Baru Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Timur di Gedung serbaguna GKI Diponegoro, Jalan Raya Diponegoro, kemarin (02/1).</p>
<p>&#8221;Kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat Surabaya dan Jawa Timur untuk bersama-sama saling membicarakan tentang banyak aspek hidup yang masih menjadi masalah bersama,&#8221; ujar Ketua Departemen Oikumene Masyarakat (Oikmas) Sinode GKI jawa Timur Pendeta Simon Filangthrope. </p>
<p>Dia menjelaskan, pada dasarnya acara itu bukanlah acara resmi seperti seminar atau debat. Namun, merupakan sebuah acara yang bernuansa nongkrong sambil makan dan minum bersama. &#8221;Seperti acara cangkrukan seperti yang sering dilakukan oleh warga Surabaya,&#8221; katanya.</p>
<p>Acara dengan konsep cangkrukan seperti itu adalah salah satu yang sangat efektif untuk bisa saling bertukar pikiran bersama. &#8221;Tanpa memandang dari golongan dan agama mereka,&#8221; ungkap pria yang juga pendeta di GKI Mojokerto itu.</p>
<p>Dalam acara yang akan diadakan selama dua hari tersebut akan diundang berbagai elemen masyarakat untuk dapat nongkrong dan berdiskusi bersama. Di antaranya dari Muhammadiyah, Ikatan Kerukunan Umat Beragama, Lembaga Seni GMKI, UK Petra, dan Taruna Siaga Nasional (Tagana) Jawa Timur. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/cangkrukan-ala-pendeta-gki.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Betapa kita tidak bersyukur</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/renungan/betapa-kita-tidak-bersyukur.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/renungan/betapa-kita-tidak-bersyukur.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 23:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>

		<category><![CDATA[gkjw caruban]]></category>

		<category><![CDATA[kaya]]></category>

		<category><![CDATA[miskin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Satu hari, seorang ayah yang berasal dari keluarga kaya membawa anaknya dalam satu perjalanan keliling negeri dengan tujuan memperlihatkan pada si anak bagaimana miskinnya kehidupan orang-orang disekitarnya. Mereka lalu menghabiskan beberapa hari di sebuah rumah pertanian yang dianggap si ayah dimiliki keluarga yang amat miskin.
Setelah kembali dari perjalanan mereka, si ayah menanyai anaknya :
&#8220;Bagaimana perjalanannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu hari, seorang ayah yang berasal dari keluarga kaya membawa anaknya dalam satu perjalanan keliling negeri dengan tujuan memperlihatkan pada si anak bagaimana miskinnya kehidupan orang-orang disekitarnya. Mereka lalu menghabiskan beberapa hari di sebuah rumah pertanian yang dianggap si ayah dimiliki keluarga yang amat miskin.</p>
<p>Setelah kembali dari perjalanan mereka, si ayah menanyai anaknya :<br />
&#8220;Bagaimana perjalanannya nak?&#8221;.<br />
&#8220;Perjalanan yang hebat, yah&#8221;.<br />
&#8220;Sudahkah kamu melihat betapa miskinnya orang-orang hidup?,&#8221; Si bapak bertanya.<br />
&#8220;O tentu saja,&#8221; jawab si anak.<br />
&#8220;Sekarang ceritakan, apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu,&#8221; kata si bapak.</p>
<p>Si anak menjawab :<br />
Saya melihat bahwa kita punya satu anjing, tapi mereka punya empat anjing.<br />
Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman kita, tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya.<br />
Kita mendatangkan lampu-lampu untuk taman kita, tapi mereka memiliki cahaya bintang di malam hari.<br />
Teras tempat kita duduk-duduk membentang hingga halaman depan, sedang teras mereka adalah horizon yang luas.<br />
Kita punya tanah sempit untuk tinggal, tapi mereka punya ladang sejauh mata memandang.<br />
Kita punya pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lain.<br />
Kita beli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan sendiri.<br />
Kita punya tembok disekeliling rumah untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka.</p>
<p>Ayah si anak hanya bisa bungkam.<br />
Lalu si anak menambahkan kata-katanya : &#8220;Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita&#8221;.</p>
<p>Bukankah itu adalah perspektif yang sangat indah?.</p>
<p>Membuat anda bertanya-tanya apa yang akan terjadi bila kita semua mengucap syukur untuk semua yang kita miliki, daripada kuatir tentang apa yang tidak kita miliki.</p>
<p>Hargailah setiap hal yang anda miliki. Hargai setiap teman anda dan tolong mereka dengan memberi kesegaran baru pada cara pandang dan paradigma mereka.</p>
<p>Hidup ini terlalu singkat dan teman-teman (sebanyak apapun) terlalu sedikit.</p>
<p>Betapa kita tidak bersyukur = kidung jemaat no 337</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/renungan/betapa-kita-tidak-bersyukur.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Presiden: Dengan Natal Kita Harus Lebih Optimis</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/presiden-dengan-natal-kita-harus-lebih-optimis.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/presiden-dengan-natal-kita-harus-lebih-optimis.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 14:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[JCC]]></category>

		<category><![CDATA[perayaan Natal]]></category>

		<category><![CDATA[Plenary Hall]]></category>

		<category><![CDATA[Presiden SBY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[
Dengan perayaan Natal tahun ini kita harus lebih optimis, bahwa kita bisa mengatasi krisis global ini dan bahkan setelah itu kita akan menjadi lebih kuat lagi sebagai satu bangsa dan sebagai satu negara. Hal ini dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Perayaan Natal Nasional 2008 di JCC, Sabtu (27/12) malam. 

&#8220;Perayaan Natal kali ini diselenggarakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.presidensby.info/imageD.php/3870.jpg" alt="" /><br />
Dengan perayaan Natal tahun ini kita harus lebih optimis, bahwa kita bisa mengatasi krisis global ini dan bahkan setelah itu kita akan menjadi lebih kuat lagi sebagai satu bangsa dan sebagai satu negara. Hal ini dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Perayaan Natal Nasional 2008 di JCC, Sabtu (27/12) malam. </p>
<p><img src="http://www.presidensby.info/imageD.php/3869.jpg" alt="" /><br />
&#8220;Perayaan Natal kali ini diselenggarakan di tengah krisis keuangan global. Ini adalah ujian berat bagi perekonomian dunia. Dalam menyikapi krisis global itu, kita tidak perlu cemas dan takut. Kita harus menghadapinya dengan jiwa yang terang, pikiran yang positif serta melihat kedepan dengan penuh semangat dan harapan,&#8221; ujar Presiden SBY. &#8220;Kita harus tetap optimis dan harus percaya bahwa kita tidak akan terseret jauh dalam pusaran krisis global, jika kita sungguh menjaga persatuan, melangkah bersama dan mengembangkan segenap potensi yang kita miliki dan bekerja lebih keras lagi,&#8221; kata Presiden SBY.</p>
<p>Ditambahkan, pemerintah dengan gigih bersama komponen bangsa lain telah berupaya keras mengatsi dampak krisis global ini. &#8220;Berbagai keputusan, kebijakan dan aksi yang cepat dan tepat telah dilaksanakan pemerintah untuk meminimalkan dampak krisis keuangan dan resesi perekonomian dunia ini terhadap perekonomian kita. </p>
<p>Presiden mengatakan, cita-cita membangun Indonesia yang aman dan damai, adil, sejahtera dan demokratis, memerlukan keteguhan iman, keyakinan dan kepercayaan diri dari bangsa yang sedang melakukan perubahan besar. Jika keimanan dan keyakinan serta rasa percaya diri kita tidak kokoh dan tidak kuat, kita dapat menyerah dan gagal dalam mewujudkan harapan dan cita-cita yang kita inginkan. Di berbagai forum sering saya katakan, layar sudah dikembangkan , dan perahu kita telah berlayar jauh menuju pulau harapan. Pantang untuk menyerah, apalagi surut kembali,&#8221; kata Presiden SBY.</p>
<p>presidensby.info</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/presiden-dengan-natal-kita-harus-lebih-optimis.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Para Gembala Idola Daerah</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/para-gembala-idola-daerah.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/para-gembala-idola-daerah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 13:50:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Bethani]]></category>

		<category><![CDATA[Bethel]]></category>

		<category><![CDATA[Gereja Masehi Injili]]></category>

		<category><![CDATA[Gereja Masehi Injili di Minahasa]]></category>

		<category><![CDATA[Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat]]></category>

		<category><![CDATA[GPIB]]></category>

		<category><![CDATA[HKBP]]></category>

		<category><![CDATA[Hosana]]></category>

		<category><![CDATA[Huria Kristen Batak Protestan]]></category>

		<category><![CDATA[Kristen Protestan]]></category>

		<category><![CDATA[Pdt Dr Albert O. Supit]]></category>

		<category><![CDATA[Persekutuan Gereja di Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[PGI]]></category>

		<category><![CDATA[Tiberias]]></category>

		<category><![CDATA[Yesus Kristus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[Mereka adalah para pendeta yang sangat terkenal di daerah. Setiap di antara mereka berceramah, umat yang datang puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Siapa saja mereka? 
DI Sulawesi Utara (Sulut) semua orang mengenal sosok yang satu ini. Dialah Pdt Dr Albert O. Supit, ketua Badan Pekerja Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (BPS-GMIM). Supit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mereka adalah para pendeta yang sangat terkenal di daerah. Setiap di antara mereka berceramah, umat yang datang puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Siapa saja mereka? </p>
<p>DI Sulawesi Utara (Sulut) semua orang mengenal sosok yang satu ini. Dialah <strong>Pdt Dr Albert O. Supit</strong>, ketua Badan Pekerja Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (BPS-GMIM). Supit adalah pemimpin satu juta umat <strong>Kristen Protestan</strong> di Sulut. </p>
<p>Gereja yang dia pimpin, <strong>Gereja Masehi Injili di Minahasa</strong> (GMIM), merupakan gereja ketiga terbesar di Indonesia, sesudah <strong>Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat</strong> (GPIB) dan <strong>Huria Kristen Batak Protestan</strong> (HKBP). GMIM merupakan anggota <strong>Persekutuan Gereja di Indonesia</strong> (PGI). </p>
<p>Umat Supit menurut data yang diperoleh mencapai 1 juta orang, atau 50 persen dari penduduk Sulawesi Utara (2,1 juta jiwa). Jadi, 50 persen penduduk Sulut adalah anggota GMIM. Sisanya adalah umat Katolik, Islam, Gereja Pantekosta, Buddha, Hindu, Adven, dan gereja-gereja Protestan yang lain seperti Bethani, Bethel, Tiberias, dan Hosana. </p>
<p>GMIM sudah memiliki jemaat di Jakarta, Surabaya, Balikpapan, dan kota-kota besar lain di Indonesia. Bahkan, jemaat GMIM di Oharai Jepang, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat sudah mendirikan gereja. </p>
<p>Saat ini GMIM memiliki 90 wilayah yang tersebar di Kabupaten Minahasa Raya, Minahasa Tenggara, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Kota Tomohon, Kota Manado, dan Kota Bitung. </p>
<p>Sehari-hari Supit berkantor di Kantor Sinode GMIM yang berada di Kota Tomohon. Banyak julukan untuk kota itu, mulai kota religius, pendidikan, sejuk, bunga, hingga volcano (karena diapit dua gunung berapi yang masih aktif: Lokon dan Mahawu). </p>
<p>Saking banyaknya anggota jemaat GMIM, Supit tak mampu melayani semua undangan. Semua gereja menghendaki dia berkhotbah. Tak heran, di acara-acara seperti penahbisan gereja, Supit sudah di-indent sejak 3-6 bulan sebelumnya. </p>
<p>Karena banyaknya jemaat yang menginden, Supit sering mendelegasikan undangan kepada sekretaris atau wakilnya. Dia memiliki seorang sekretaris dan lima wakil. Mereka juga dipilih oleh hampir 900 pendeta di wilayah pelayanan GMIM. </p>
<p>Kepada Manado Post (Jawa Pos Group), dengan suara yang agak pelan, Supit mengatakan bahwa sebetulnya dirinya enggan menonjolkan diri sendiri di momen Natal. Sebab, menurut dia, yang harus dipublikasi itu bukan tentang dirinya, tetapi kemurahan <strong>Yesus Kristus</strong>. </p>
<p>Itulah yang membuat Supit &#8221;laris manis&#8221;. Malahan, bila ada masalah atau berpotensi konflik, Supit selalu diminta untuk mengeluarkan statemen di media massa agar suasana menjadi lebih kondusif. </p>
<p>Umatnya sering mengatakan, ketika sedang membawakan khotbah atau ceramah, ketua Sinode GMIM itu sering berfilsafat. Karena itu, umat sangat menantikan khotbah dan ceramah Pdt Supit. Tapi, Supit membantah anggapan umatnya itu. Menurut dia, dirinya tidak pernah berfilsafat. &#8221;Hanya jemaat merasa setiap kata-kata yang keluar dari mulut saya penuh kalimat filsafat. Walau demikian, tetap saja saya berterima kasih karena jemaat masih mau mendengarkan khotbah dan ceramah saya,&#8221; ungkap pria 57 tahun itu. </p>
<p>Dia pun sedikit menceritakan perjalanan pelayanannya di gereja. &#8221;Setelah lulus S-1 di Jakarta, saya mulai dengan melayani di Jemaat Kaweng (Kecamatan Kakas, Kabupaten Minahasa, Red) pada 1977. Pada waktu itu, saya melayani harus berjalan kaki 5 kilometer setiap hari. Saya juga pernah menjabat kepala sekolah PGA di Amurang,&#8221; kenangnya. </p>
<p>Dia juga pernah menjabat sekretaris jurusan, ketua jurusan, dan dekan Fakultas Teologi UKI Tomohon. Pembantu rektor bidang kemahasiswaan (PR III), pembantu rektor bidang akademik (PR I), Pjs rektor Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), hingga rektor UKIT. </p>
<p>&#8221;Tapi, itu tidak membuat saya cepat puas dan berbangga diri. Walau demikian, saya merasa masih kurang pengetahuan. Makanya, saya terus belajar hingga sekarang. Itulah proses yang pernah saya lewati,&#8221; ujarnya. </p>
<p>Ketika ditanya bagaimana peran keluarga dalam menunjang aktivitas sebagai pemimpin umat, dia menjawab bahwa semua anggota keluarganya, mulai istri tercinta Essih Kurniasih Kaidun hingga anak-anaknya, mendukung penuh. Pasangan Supit-Essih dikaruniai empat anak. Mereka adalah Pdt Keyse Libertina Supit MTh, dr Lidya Cleverly Supit SKed, Frank Karel Martel Supit SE, dan Timothy Eduard Absalom Supit (mahasiwa semester V Fakultas Kedokteran Unsrat). &#8221;Istri saya benar-benar menjadi berkat bagi saya,&#8221; katanya. </p>
<p>Mengenai honor yang diterima Supit setiap berceramah, memang tidak ada standar atau jumlah nominal berapa yang harus diberikan. Sebab, bagi Supit, pelayanan sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk membawakan kabar keselamatan dan menyelamatkan banyak orang. Lagipula, sebagai ketua Sinode GMIM, Supit sudah digaji Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per bulan. &#8221;Kalau ada yang mempunyai berkat lebih dan mau membagikan kepada saya, saya akan menerima dengan penuh suka cita. Yang paling banyak, jemaat memberikan Rp 1 juta. Itu yang rata-rata. Tapi, pernah juga saya diberikan Rp 100 juta saat melayani di suatu tempat,&#8221; ceritanya.</p>
<p>Menyangkut pelayanan yang padat, dia menilai keberhasilannya selama memimpin GMIM masih di bawah 50 persen. Sebab, memasuki hari raya Natal ini saja, jadwalnya sangat padat. &#8221;Kalau ada yang datang meminta untuk dilayani, saya hanya mengatakan bahwa disesuaikan saja dengan jadwal yang sudah ada,&#8221; katanya. </p>
<p>Ditanya apakah tidak merasah lelah dengan kesibukannya selama ini, dia mengatakan justru itu merupakan sukacita yang tak terukur. &#8221;Sama dengan Paulus mengatakan upahku adalah tidak memiliki upah, kalau melayani dengan hati yang sungguh.&#8221;</p>
<p>jawapos Kamis, 25 Desember 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/artikel/para-gembala-idola-daerah.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>LIPUTAN PERAYAAN NATAL GKJW JEMAAT CARUBAN</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/warta-gkjw-caruban/liputan-perayaan-natal-gkjw-jemaat-caruban.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/warta-gkjw-caruban/liputan-perayaan-natal-gkjw-jemaat-caruban.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 13:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Micko Henry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Warta GKJW Caruban]]></category>

		<category><![CDATA[natal di caruban]]></category>

		<category><![CDATA[natal di madiun]]></category>

		<category><![CDATA[natal gkjw]]></category>

		<category><![CDATA[natal gkjw caruban]]></category>

		<category><![CDATA[natalan]]></category>

		<category><![CDATA[perayaan Natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[syaloommm, salam damai dalam kasih Kristus Yesus.

tidak beda dengan gereja2 laen di seantero muka bumi, jemaat GKJW CARUBAN pun merayakan perayaan hari raya Natal yang diselenggarakan pada tanggal 29 Desember 2008, bertempat di gedung aula BLK Caruban.

Perayaan yang mengambil tema hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (ROMA 12:18)  ini, dimulai sekitar pukul 18:00, dibuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>syaloommm, salam damai dalam kasih Kristus Yesus.<br />
<center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0871.jpg" alt="" /></center><br />
tidak beda dengan gereja2 laen di seantero muka bumi, jemaat GKJW CARUBAN pun merayakan perayaan hari raya Natal yang diselenggarakan pada tanggal 29 Desember 2008, bertempat di gedung aula BLK Caruban.</p>
<p><center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0875.jpg" alt="" /></center><br />
Perayaan yang mengambil tema h<strong>iduplah dalam perdamaian dengan semua orang</strong> (ROMA 12:18)  ini, dimulai sekitar pukul 18:00, dibuka dengan MC Bp Petrus, menggantikan Bpk Darminto yang saat itu berhalangan hadir, dengan menyanyikan lagu2 pujian.</p>
<p><center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0881.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0883.jpg" alt="" /></center><br />
kemudian sambutan oleh Bpk Danang, selaku LURAH <del>MEJAYAN</del> BANGUNSARI, kemudian sambutan ketua panitia Natal oleh Bp L Bambang.</p>
<p><center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0885.jpg" alt="" /></center><br />
kemudian acara penyerahan simbolis, sertifikat gedung &#038; tanah gereja, yang diserahkan Ibu Subagyo kepada Bp Pdt Adi.</p>
<p>dan acara yang ditunggu2 merupakan inti dari Pesan Natal, berupa drama / operet yang dilakoni oleh KPAR, KPPM, beserta beberapa warga jemaat gkjw, anggota majelis dan <strong>bintang tamu mr x</strong><br />
<center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0889.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0901.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/NATAL2008-BLK-026.jpg" alt="" /></center></p>
<p>ditengah2 drama natal, diselingi juga sumbangan pujian lagu2 rohani, oleh grup paduan musik jazz - keroncong (featuring Bp Pdt Adi) , yang dilantunkan oleh Bp Petrus &#038; sdri Ruth Niar beserta mbak Nunu&#8217; (*CMIIW).<br />
<center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0912.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0914.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0918.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0913.jpg" alt="" /></center></p>
<p>kemudian, drama Pesan Natal dilanjutkan kembali. menceritakan beberapa strata sosial yang mengalami berbagai macam krisis, baik krisis ekonomi, krisis kepercayaan, krisis moral, yang disebabkan karena tidak ada damai di dalam hidupnya masing2.<br />
<center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0924.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0939.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0942.jpg" alt="" /><br />
<img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0958.jpg" alt="" /></center></p>
<p>kemudian muncullah sosok <strong>mr x</strong> a.k.a <strong>tandak bedhes</strong> yang membawa perenungan bahwa damai itu adalah sebenarnya sebuah pilihan bagi kita.<br />
<center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG0988.jpg" alt="" /><br />
<img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG1003.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG1009.jpg" alt="" /></center></p>
<p>drama Pesan Natal ini kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu pujian Malam Kudus yang disertai penyalaan lilin secara simbolis, yang diwakili oleh Bp Pdt Adi, Bp Danang Lurah Bangunsari, Ibu Pdt Kristyanti, Bp Dri Hardjono dan wakil dari KPAR.<br />
<center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG1022.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/NATAL2008-BLK-055.jpg" alt="" /></center><br />
<center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/NATAL2008-BLK-057.jpg" alt="" /></center></p>
<p>kemudian acara Perayaan Natal ini ditutup doa penutup yang dibawakan oleh Bapak Warsito (*CMIIW)<br />
<center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG1036.jpg" alt="" /></center></p>
<p>SAMPAI JUMPA DI PERAYAAN NATAL 2009 (<del>DI AULA KELURAHAN BANGUNSARI</del>)</p>
<p><center><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG1060.jpg" alt="" /><img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/CIMG1061.jpg" alt="" /></center><br />
<center><br />
<img src="http://i201.photobucket.com/albums/aa276/gkjwcaruban/natal2008/Agust902.jpg" alt="" /><br />
</center></p>
<p><strong>update :</strong><br />
acara perayaan natal malam tersebut ditutup dengan pembagian makanan kepada kaum yang terpinggirkan, sebagai bukti kami juga membagikan kesukacitaan Hari Raya Natal untuk semua orang.</p>
<p><strong>GALLERY FOTO TAK TERPUBLIKASIKAN :</strong><br />
<a href="http://www.flickr.com/photos/gkjwcaruban/">http://www.flickr.com/photos/gkjwcaruban/</a></p>
<p><em>*CMIIW = correct me if i&#8217;m wrong</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/warta-gkjw-caruban/liputan-perayaan-natal-gkjw-jemaat-caruban.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
