SELAMAT JALAN AMROZI

Nov 10th, 2008 | By ndiman | Category: Gema Kepandhitan

~Refleksi atas relativitas interpretasi dan gagalan pendidikan iman~

Oleh: Andri Purnawan *)

Minggu, 9 November 2008 dini hari engkau mendapat kado kematian bersama si Ghufron dan Samudra. Akhirnya engkau dapatkan juga kado itu. Setelah beribu hari manusia sejagad berdebat dan saling menghujat dalam rembug pemberian hadiah bagi kalian. Ada yang berseru setuju hadiah itu pantas diberi karena memang kalian sendiri pernah ngotot memintanya. Ada yang memaksa membatalkan pemberian kado yang kalian idamkan itu, dengan sejuta alasan. Yang setuju berseru atas nama keadilan dan kemanusiaan. Yang menentang meminjam kebesaran nama Tuhan dan HAM.

Ah… Amrozi-amrozi… Aku sungguh kasihan padamu. Engkau, Ghufron dan Samudra sebenarnya bukan orang jahat. Bahkan kalian terlalu baik dan terlalu hormat pada Tuhan. Jika dibandingkan dengan Syekh Pudji yang hobi mengeksploitasi anak-anak demi kepentingan syahwatnya, kalian masih lebih terhormat. Kalian terlalu berani dan heroik. Andai kalian hidup di jaman perang kemerdekaan, pasti dunia akan mengenang kalian sebagai pahlawan. Walah…walah Amrozi-Amrozi….!!! Lugunya engkau dan teman-temanmu. Kebaikan dan kesetiaanmu diracuni dan ditunggani oleh fundamentalisme congkak warisan gurumu. Jika KH Wahid Hasyim yang jadi Kyaimu, mungkin engkau dan teman-temanmu akan menambah jajaran manusia bertaqwa yang menghormati keberagaman dan perbedaan keyakinan di negeri ini. Andai gurumu adalah Ki Hajar Dewantara, aku yakin kini namamu akan seharum Paulo Freire, Che Guevara, atau minimal jadi ”Umar Bakri” modern. Andai engkau nyantrik pada Pak Dirman (baca: Jenderal Sudirman) maka engkau akan sehebat Susilo Bambang Yudhoyono.

Tapi kenyataan memang tak dapat diingkari. Menurutku kalian keliru menghayati apa itu syahid/ martir, walau itu tidak sepenuhnya itu salah kalian. Itu juga salah yang guru-gurumu, yang memperkenalkan dan menikahkan kalian dengan radikalisme. Dan mereka jugalah yang kini menghasut orang-orang baik nan lugu lainnya untuk meneruskan perjuangan salah kaprah kalian. Sialnya, muncul preman-preman pengecut yang kini berpakaian sepertimu dan meneriakkan hyel-hyel Allahu..akbar layaknya kamu, Ghufron dan Samudra. Yang membedakan adalah, kalian beribadah sementara mereka cari uang, kekuasaan, kehormatan dan sangat takut dengan peluru.

Aku yakin, sekarang banyak yang melayatmu. Tapi ingatlah tujuan mereka bukan melayat jasad dan menghormati jasamu. Mereka hanyalah mau reuni dan membuat gerakan dengan gaya baru yang lebih tersistematis dan terorganisir. Kematian kalian bertiga adalah undangan yang paling mewah untuk menarik perhatian dan mendatangkan ribuan mujahid prepet dari segala penjuru Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Ah…Amrozi-Amrozi. Tak ada habisnya membicarakan gerakan teman-temanmu itu. Aku tak mau melanjutkannya karena aku takut salah menjustifikasi. Yang jelas antara aku dan kamu punya kesamaan, kita berdua bisa salah menginterpretasi dan salah memilih. Dan itulah hakikat kemanusiaan kita. Memutlakkan interpretasi atas kebenaran akan senantiasa mendatangkan laknat. Tapi bagaimana pun juga kuhormati pilihanmu, Amrozi. Oleh karena itu pergilah dengan tenang dan nikmatilah kado kematianmu. Selamat jalan kawanku, sampaikan salamku juga untuk Ali Ghufron dan Imam Samudra.

* kini melayani di GKI Darmo Satelit, Sby

Tags: , , , , , ,

RSS feed | Trackback URI

2 Comments »

Comment by samot
2008-11-13 19:40:55

kemaren aq liat “barometer” di SCTV sekitar jam 11an mlm….(rembug tokoh media d Ind)
kesimpulan saya :
ternyata, kejahatan bisa jadi “kepahlawanan” tergantung dari kacamatanya. artinya media yang notabene mengekspos berita tsb kadang memberikan porsi pemberitaan yang berat sebelah.
satu sisi detail “prilaku” amrozi cs. diekspos namun lupa ekspos KESEDIHAN keluarga korban! ironi…media mencetak prilaku masyarakat! sisi eklusifitas yg berlebihan, perbandingan yang kurang seimbang…..
alkisah pelaku mutilasi “tato macan” juga terinspirasi jagal Ryan
mbok-ku yang suka sinetron emosinya juga lebih labil…..

Artinya KEKERASAN bisa jadi hal yang biasa karena konsumsi-distribusi media yang ngawur
kenyataannya informasi visual mencetak blue print/image yang lebih cepat daripada yang kita bayangkan

pesan: makanya klo mo lebih gampang jadi Presiden, jadi bos media dulu! heheheheheeee

Comment by joyo
2008-11-15 22:25:31

pesan: makanya klo mo lebih gampang jadi Presiden, jadi bos media dulu!

setuju ….
menguasai media … menguasai dunia …

tapi ojo dahlan iskan rek …

malesssss …

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post