SYEKH PUDJI YANG CERDIK DAN BRILIAN

Nov 10th, 2008 | By ndiman | Category: Gema Kepandhitan

Oleh: Andri Purnawan *)

Ada saja hal aneh di negeri ini. Pengasuh Ponpes Miftahul Jannah yang punya nama lengkap Syekh DR HM Pujiono Cahyo Widianto itu memang bisa berbuat segalanya. Selain seorang kyai, dia sekaligus pengusaha hebat. Kemarin pengusaha asal Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang itu melantik istri barunya yang masih berusia 11 tahun 8 bulan sebagai General Manajer perusahaan yang dipimpinnya, PT Sinar Lendoh Terang (Silenter). Istri keduanya yang masih imut-imut itu bernama Lutfiana Ulfa, putri dari pasangan Suroso (35) dan Siti Hurairah (33), warga Randu Gunting, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

-

Kabarnya Pudji mau nambah lagi koleksi bini berusia 9 dan 7 tahun. (Ini melanggar UU Perkawinan karena menikahi anak dibawah umur, sebagai warga negara Indonesia Pudji harus terikat dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia. Disamping itu Pudji melanggar UU no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak (telah merampas hak-hak sebagai anak), melanggar UU no 21 pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (karena disinyalir kuat sang anak yang dinikahinya dibeli oleh Pudji dengan uang dan harta), melanggar UU no.13 tahun 2004 tentang ketenagakerjaan (karena mempekerjakan anak  di perusahannya sebagai manajer). Semua pelanggaran itu dengan tekad bulat ditempuh dengan alasan sederhana, yakni untuk membangun dan memperkuat kerajaan bisnisnya.

Hipokrit memang. Alasan menikahi anak kecil untuk melanjutkan usaha sangat jauh dari masuk akal. Namun kita harus tahu di balik usaha yang beromset miliaran rupiah itu ada aspek nglakoni. Dalam masyarakat kebatinan, dianut sebuah paham bahwa untuk mencapai kesuksesan harus ada kerja keras. Dan kerja keras itu bukan hanya menyangkut fisik/ aspek lahir, tetapi juga aspek batin dan spiritual.

Menurut sebuah sumber yang bisa dipercaya Syekh Pudji mendapatkan kesuksesannya dengan sebuah tirakat. Selama satu setengah tahun (18 bulan) ia tak pernah tidur malam, mengisi hari-harinya dengan berdoa, wirid, baca salawat. Selain itu ia juga bekerja keras dan berbuat amal (konon kabarnya baru-baru ini pudji berzakat sampai miliaran rupiah). Dia juga mengatakan kalau dalam awal-awal mendirikan perusahaanya itu, selalu menjalankan puasa nglempus yakni tidak makan-minum dan tidur selama beberapa hari. Kalau untuk kesuksesan sesuatu, bisa hingga 3 atau 7 hari, bahkan 11 hari berturut-turut bisa puasa tidak makan-tidak minum dan tidur untuk tujuan tertentu.

Bagaimana dengan mengawini anak di bawah umur? Jika kita menduga ada motif seks abnormal di belakangnya, mungkin kita salah. Karena jika motifnya adalah penyimpangan seksual maka ia tidak akan berani melanggar hukum positif yang ada. Apalagi dia cukup berpendidikan dan tahu hukum di Indonesia. Lebih menguntungkan jika ia menghimpun perawan-perawan yang sudah cukup ranum untuk dinikahi. Dengan demikian ia bisa bebas dari kontroversi dan hujatan dari berbagai pihak.

Lalu apa motif di balik perkawinan dengan anak bau kencur? Penulis menduga, Pudji adalah seorang yang sedang nglakoni. Menjalani ritual tertentu sebagai syarat atas kesuksesan yang didapat. Dengan mengawini anak-anak dan menjadikan pengelola perusahaan, mungkin saja usahanya akan menjadi lebih besar. Tidak masuk akal memang. Tapi ini menyangkut iman. Nglakoni hal yang tidak lazim itu akan ditempuh demi sebuah tujuan kesuksesan.

Dalam hal ini Pudji cukup lihai mengelak dari jerat hukum formal. Ia dan penasehat hukumnya mencoba membenturkan hukum positif dengan syari’ah Islam. Dia tahu persis bahwa sekarang ini eforia pemberlakuan syari’ah sedang laku bak kacang goreng di Indonesia. Dalam syari’ah Islam memang diatur ukuran kedewasaan seseorang adalah sudah akil balig. Dengan demikian Pudji mengklaim tindakannya adalah tindakan legal dan berdasar aspek hukum agama. Jenius khan? Itu artinya ia berlindung di balik kedaulatan agama. Kita semua tahu, kalau sudah bicara soal klaim ilahi aturan apa pun yang berlaku bisa disingkirkan, diludahi dan diinjak-injak. Jadi, ketika ada orang menentangnya, maka itu berarti orang tidak menghornati hukum Islam. Nah kalo tidak menghormati hukum Islam, itu berarti akan berhadapan dengan seluruh umat Islam dan segala gerakan kulturalnya.

Pinter khan? Itulah cara Syekh Pudji mencapai tujuannya. Dia memang benar-benar cerdik seperti ular. So…what ure opinion Guys?

*Oleh: Andri Purnawan, kini melayani di GKI Darmo Satelit, Sby

Tags: , , , , , ,

RSS feed | Trackback URI

5 Comments »

Comment by susi
2008-11-13 11:40:22

Syalom Pak Dhe,
Salut Anda dapat melihatnya dari perspektif yang lain (nglakoni). Dengan pemaparan Anda lalu apa relevansinya bagi kita? Bagimana kita (baca:kekristenan) menanggapi fenomena ini? Kelihatannya Syekh dan Pak Dhe juga punya kemiripan. Misal sama-sama memiliki anatomi kuasa dan jemaat. Syekh punya kharisma dan disegani banyak orang (entah karena kekayaan atau karena memiliki daya magis dan spiritual yang mumpuni) sementara kecenderungan jemaat kita (jemaat kristen) suka ngrasani dan sebagainya? Jika diperbandingkan bukankah perlu kita mengkaji ulang cara dan metode kepemimpinan yang ada pada Kekristenan? Pripun Pak Dhe opini Jenengan? Nuwun. Gusti Mberkahi.

Comment by andri
2008-11-15 09:00:18

relevansinya? ada. setelah berita syekh puji booming. banyak kalangan mulai gundah resah dengan kebangkitan syariah Islam. yang ujung-ujungnya muncul primordialisme dari kalangan kita (kristen). kita menjadi semakin anti islam. padahal tidak semua kekacauan itu ber-causa dari islam. dampaknya, kebhinekaan kita akan semakin terbelah dan terrenggang.

di saat tertentu islam justru jadi kendaraan bagi kekuasaan, kepongahan, dsb. jadi ini bukan rasan-rasan mbak yu. tapi justru upaya untuk menjernihkan situasi. diam terhadap kasus yang tidak bersangkut paut dengan kita juga bukan sikap yang bijak. itu membuat gereja hanya bisa ber- “oratio pro domo” (ngomong untuk kepentingannya sendiri). salam.

Comment by samot
2008-11-15 11:56:51

nggih kula setuju dengan Bopo Andri…
gerakan laten agama sudah muncul sejak 1957. setelah sekian lama Pak Harto sanggup meredam, bangkit lagi d era REFORMASI. itu kenyataan!

juga ga saya pungkiri, keberadaan “sayap kanan” buat saya membenci dengan sistem gebyah uyah=sama rata. dan mengembalikan kepercayaan (yang secara golongan teraniaya) bukanlah hal mudah….

Nah saya melihat, disini justru letaknya dimana seorang Kristen diuji mampu membawa SHALOM (damai sejahtera) dalam kehidupan seluruh ummat manusia pa engga?
ato kita cuek acuh saja (daripada dianggep ngurusi perkara orang)?

ato kita mau jadi pelaku-pelaku Kristiani?
Toh Tuhan juga menurunkan hujan ke orang-orang yang tidak beribadah kepada-Nya. bukan menjadi Hakim atau CUMA penonton, tapi hikmat diperlukan disini!

Salam juga :mrgreen:

(Comments wont nest below this level)
 
 
 
Comment by suara
2008-11-13 12:39:02

ketika si stacy di “bawa lari” Rico ceper, bapaknya koar-koar…
ketika si Ulfa dibawa ke istana sang saudagar, bapaknya tenang-tenang..
tetap saja… si anak menjadi korbannya…
kenapa orang dewasa ini ada-ada saja ya.. kurang kerjaan…. :cry:

 
Comment by samot
2008-11-13 19:59:42

klo manusia hidup CUMA untuk memenuhi “TUNTUTANnya” berarti dapat dianggap gagal

artinya urip tur yen sugih, nek wes sugih trus lapo?
nek urip mung tur wuakeh bojone yo lapo?
artie urip semata-mata untuk kepentingan sosok individualnya….trus kesannya GUSTI pangeran kurang kerjaan nyiptain anda-anda ni yang nantie juga hidup mung kanggo awake dewe…Trus bagiane Gusti yang mana? (ya klo kondisi seperti ini ya sisalah….)

tetep ada batas-batas yang kasat mata sebagai kodrat manusiawi
artinya seekor singa tidak akan jadi seekor pemamah biak seperti kebo…wadhoooh!(jauh) Coz seekor singa diciptakan sesuai batas kodrat seekor makhluk Gusti yang membunuh rusa untuk makan

Yen kodrate manungsa, yo ngabekti gawe kepentingane GUSTI, bukan terus-menerus miturut kersane piyambak!

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post