Lupa, lupa, lupa kunci-Nya….
Jun 10th, 2009 | By Micko Henry | Category: Refleksioleh Bp Charles Manurung
Bacaan : Yesaya 40 : 12 – 14
40 : 12; Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?
40 : 13; Siapa yang dapat mengatur Roh Tuhan atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?
40 : 14; Kepada siapa Tuhan meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar Tuhan untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?
Refleksi :
Semasa kecil, Gw pernah mengalami – seperti yang dialami bangsa Israel di masa pembuangan -, merasa ‘terpuruk’ dan ‘amat menderita’ oleh deraan ’serba kurang’ dan merasa kehidupan tidak begitu bersahabat. Merasa alur jalan hidup yang begitu suram, membuat gw terkadang ‘putus harapan’ akan ke-Maha Kuasa-an Tuhan, dan bahkan gw menganggap Tuhan sudah tidak mampu menyelamatkan kehidupan gw.
‘Keterpurukan’ dan ‘derita panjang’ yang seolah tidak akan habis itu acapkali menjadikan gw ‘tidak bisa berpikir rasional’.
Disaat-saat susah itu, gw juga kehilangan kemampuan untuk ‘melihat siapa yang menguasai hidup gw’ dan lupa akan "siapa yang terbesar dan sangat memperhatikan hidup gw".
Butuh waktu sangat lama hingga gw sampe di Caruban ini, dan saya menyadari dengan begitu susahnya bahwa "Tuhanlah yang Maha Besar dan kekuatan-Nya luar biasa" (Yes 40 :12).
Ternyata memperbandingkan air laut – tangan, langit – jengkal, debu tanah – takaran, gunung – dancing, serta bukit – neraca : menunjukkan sesuatu yang amat mustahil, bahkan dalam kehidupan yang sangat modern seperti saat ini.
Adakah manusia yang lebih bijaksana dari Tuhan??? Adakah guru yang mampu melampaui pengetahuan Tuhan???
Jelaslah, bahwa tidak ada satu pun manusia yang lebih bijaksana, lebih ber-pengertian daripada Tuhan (Yes 40 : 13 – 14).
Banyak "hal" dan "benda" yang kita anggap berkuasa karena "sangat mempengaruhi" kehidupan kita. Semisal, banyak pihak menganggap "materi" merupakan "penguasa mutlak" dalam hidupnya. Terkadang juga, mengaku percaya Tuhan, namun mencari ‘kekuatan tandingan’ bagi Tuhan. Kita menganggap untuk hal tertentu disaat timbulnya deraan maupun cobaan hidup, sepertinya Tuhan tidak sedang berkarya dalam hidup ini.
Tapi, nast ini mengingatkan bahwasanya bukan materi, bukan benda-benda duniawi, serta bukan kekuatan duniawi yang terbesar dalam mempengaruhi kehidupan ini.
Bahwa kuat kuasa Tuhan tidak dapat disamakan dengan ilah-ilah lain ketika kita berlayar mengarungi derasnya arus air di samudra kehidupan ini.
maka berbahagialah mereka yang menanti-nantikan Tuhan, dan senantiasa berpengharapan!
karena mereka akan mendapat kekuatan baru…. seperti rajawali yang terbang tinggi, seperti seorang pelari yang tak kenal lelah. seperti seseorang yang berjalan tanpa letih.
Lha banyak lupanya pa ingatnya?
apalagi saat musuh memojokkan & mengejar kita, kita banyak “bertawakal” ato cari pembenaran usaha pembalasan? semoga kita dmampukan slalu inspirator kasih dan menjadi “ingat ingat ingat & dikit lupanya” amin