Pelayan Tuhan yang Bertugas di Tempat-Tempat Khusus

Dec 23rd, 2009 | By Micko Henry | Category: Profil

Tidak banyak penginjil atau pelayan Tuhan yang mendedikasikan dirinya pada pelayanan rohani para narapidana atau lokalisasi. Di LP Kelas II A Wanita dan LP Kelas I Lowokwaru, Kota Malang, ada sejumlah penginjil yang konsisten di jalurnya selama bertahun-tahun. Pasangan suami istri Agustinus Widji Widajat dan Monica Andrian ini salah dua di antara orang-orang yang peduli ini.

Delapan tahun silam, rumah tangga pasangan suami istri (pasutri) Agustinus Widji Widajat dan Monica Andrian nyaris hancur. Itu lantaran Widji tersangkut kasus narkoba. Ia pun harus berurusan dengan LP (lembaga pemasyarakatan). Namun, sejak lima tahun lalu, keduanya sudah menjadi tim yang kompak untuk menjadi pelayan Tuhan bagi narapidana dan tahanan yang mendekam di semua LP di Pulau Jawa, Madura, dan Nusakambangan.

Dunia kelam narkoba sudah ditinggalkan jauh-jauh Widji. Kini, ia pun berkomitmen untuk menjalani sisa hidupnya menjadi pelayan Tuhan bagi para narapidana penghuni LP. ”Tuhan telah menyelamatkan hidup saya. Jadi sekaranglah waktunya bekerja bagi Tuhan,” kata Widji saat ditemui di rumahnya, Jl Durian, Klojen, Kota Malang, siang kemarin.

Ditemui di ruang tamu bersama istrinya, Andrian, bapak empat anak ini sempat nervous. Alasannya sepele. Ia tidak biasa menghadapi wartawan. Widji beranggapan, pelayanan tidak perlu semerta-merta diperlihatkan ke masyarakat. Yang ia khawatirkan, publikasi itu bakal berdampak pada kesombongan pribadinya.

Sosok pria berkulit putih ini memang sangat tertutup. Sekadar memintanya untuk bersedia dipublikasikan bukanlah hal yang mudah. Namun harus melalui diskusi panjang selama berjam-jam. Banyak pertimbangan dia harus bersikap demikian, di antaranya adalah psikologis anak terakhirnya, Amanda Dorotis, 8, yang duduk di bangku kelas III SD.

Bebas dari kungkungan jeruji besi LP pada awal 2006 lalu, Widji mengaku masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan. Baik anggota keluarga maupun tetangga. Saat itu, pria yang lahir pada 1 April 1963 ini mengalami pergulatan batin yang cukup kuat.

Berkat pertolongan Andrian yang sudah terlebih dahulu eksis di dunia pelayanan sejak suaminya itu mendekam di LP, Widji bisa langsung termotivasi untuk menyatu dengan lingkungannya. Andrian sendiri melakukan pelayanan di LP berkat pertolongan Andreas Nur Mandala, guru rohani Widji saat mendekam di LP Madiun.

”Sebelum melakukan pelayanan, saya diterapi oleh istri dengan terlebih dulu menjadi sopir pribadinya ketika bepergian melakukan pelayanan ke LP,” katanya.

Dalam adaptasi selama kurang lebih 10 bulan itu, akhirnya lambat laun membuahkan hasil. Dia beranggapan harus segera keluar dari pergulatan batin. Satu satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan bertobat serta mengakui segala kesalahan di hadapan Tuhan. Pertobatan itu ia wujudkan dengan mengikuti jejak istrinya melakukan pelayanan pada napi dan tahanan di LP.

Kualitas pelayanan semakin terasah ketika bertemu dengan Yonatan Dji, pendiri Yo Ministry, lembaga pengkabaran Injil di Surabaya. Yonatan adalah mantan narapidana kasus mutilasi di Surabaya pada 1990 lalu. Setelah bebas, dia masuk ke dunia pelayanan Tuhan dan mendirikan lembaga pekabaran injil yang operasinnya di seluruh Indonesia.

”Selama di penjara, Yonatan adalah penginjil idola saya. Karena dia mampu memberikan pencerahan bagi para napi Kristen yang sedang dirundung permasalahan,” tutur pria yang menikah pada 28 November 1997.

Dalam pertemuan dengan Yonatan, Widji mengutarakan niatnya untuk bergabung dalam Yo Ministry. Kebetulan, saat itu Yohanes berniat akan buka pelayanan di LP Kelas I Lowokwaru dan LP Kelas II Wanita. Widji pun membantu Yohanes untuk mengurus keperluan birokrasinya.

Saat kali pertama melakukan pelayanan, Widji mengaku cukup grogi. Napi yang ia hadapi, tak lain adalah teman-temannya dahulu. Namun dia sadar jika takdir sudah berubah. Saat itu dia harus mengambil peranan berbeda, yakni membuat napi memiliki semangat dan tidak patah semangat untuk bisa menjalani hidup di balik jeruji besi.

Sebagai mantan napi, Widji bersama istrinya berjuang keras untuk memberi semangat dan harapan pada para napi. Salah satunya adalah meluangkan waktu untuk menampung keluhan dan beban batin yang dirasakan napi. Permasalahan-permasalahan itu, ia catat dan ia bawa dalam doa malam yang ia lakukan sebelum beranjak tidur. ”Kami menyediakan waktu khusus untuk memanjatkan doa para napi,” katanya.

Jenis permohonan doanya pun beragam. Mulai dari minta cepat dibebaskan dari tahanan, doa kesembuhan bagi anggota keluarganya yang sakit, hingga doa bagi ketenangan batin.

Selain menyediakan waktu untuk doa para napi, kedua pasutri ini juga kerap dimintai tolong para napi untuk datang ke rumahnya. Tujuannya menemui anggota keluarganya yang ditinggal. Tujuannya macam-macam. Bisa untuk mengambilkan pakaian, minta untuk dijenguk, bahkan minta uang untuk keperluan belanja kebutuhan sehari-hari.

Sebagai penginjil para napi Nasrani, Widji dan Andrian, lebih menempatkan sebagai orang tua sehingga kerap dijadikan ajang curhat dan minta tolong. Menjadi pelayan Tuhan bagi para napi bukan berarti mereka tidak pernah ditipu oleh napi. Pernah suatu ketika Andrian pernah ditipu napi yang meminjam uang, namun tidak dikembalikan. Meski demikian dia tidak mempermasalahkannya.

Jadwal pelayan yang dilakukan Widji dan Andrian cukup padat. Untuk Malang saja, keduanya dijadwalkan pada Senin minggu ke III di LP Wanita Malang dan Selasa minggu ke III di LP Lowokwaru. Berikutnya di Rutan Medaeng (Sidoarjo) dilakukan setiap hari Minggu sebulan sebanyak tiga kali. Berlanjut di LP Porong dilakukan setiap Rabu pada Minggu I.

Kemudian LP Narkoba di Pamekasan Madura, dilakukan setiap Sabtu pada minggu ke IV. Berlanjut LP Madiun pada minggu pertama hari Sabtu, LP Kelas II Blitar pada Rabu minggu ke IV, LP Anak Blitar setiap Sabtu, sekali dalam sebulan. Kemudian, LP Pasuruan, LP Kediri setiap Sabtu sebulan sekali.

Selain LP di Jawa Timur, keduanya dalam sebulan sekali juga rutin mengunjungi LP Tanggerang dan LP Cipinang. Sedang untuk LP Nusakambangan menyesuaikan situasi kondisi dengan jadwal kunjungan minimal 3 bulan sekali. Di dalam LP Nusakambangan ada tiga LP yakni LP Batu, LP Besi, LP Kembang Kuning, LP Permisan, LP Pasir Putih, dan terakhir LP Narkotika. Total, terakhir mereka berkunjung ke LP Nusakambangan jumklah LP Nasrani kurang lebih 300 orang.

Sebagai penginjil, pasutri yang sedang sekolah sebagai penginjil di Perguruan Theologi Katholik Regina Apostolorom di Malang ini tidak hanya perhatian terhadap napi. Tapi juga pada para mantan napi. Setiap minggu, mereka mengumpulkan mantan napi untuk menggelar persekutuan doa.

Lokasinya bergantian. Kadang di rumahnya, kadang pula di rumah para mantan napi. Selain untuk ibadah, dalam pertemuan yang diikuti sekitar 15 orang ini, Widji dan Andrian kerap menanyakan perkembangan kehidupan dan usaha yang sedang ditekuni.

Hal yang paling membuatnya bahagia adalah ketika melihat mantan napi yang sudah bisa mandiri dengan merintis usaha sendiri. ”Mereka tidak lagi membebani keluarga ataupun tetangga. Bahkan kehadiran mereka di lingkungan membawa manfaat,” katanya.

Contohnya, salah satu napi kasus narkoba, setelah bebas mereka berjualan kantong plastik dengan menyewa sebuah bedak di dekat LP. Namun setelah setahun berjalan, bisnisnya sukses dan kini telah menyewa ruko. Menariknya, insiprasi berjualan kantong plastik muncul dari pengalamannya jualan sabu-sabu yang menggunakan kantong plastik.

Sejatinya, napi juga manusia sehingga memiliki nilai-nilai kemusiaan pada umumnya. Sehingga karakter satu dengan lainnya berbeda. Ada yang sungguh-sungguh beribadah dan tidak jarang yang hanya bermain-ain untuk menghilangkan rasa kejenuhan selama mendekam di LP.

Umumnya menangani napi perempuan lebih sulit ketimbang laki-laki. Napi perempuan paling sering bermain watak, ketimbang napi laki-laki yang cenderung apa adanya. Selain itu, penanganan napi untuk kasus penipuan dan penggelapan lebih sulit ketimbang kasus lainnya termasuk narkoba. Namun yang paling mudah adalah kasus pembunuhan. Jika napi perkara penipuan, lebih sering bersandiwara dan tidak jujur.

Ke depan, mereka berkeinginan memiliki rumah untuk pelatihan keterampilan para napi sebagai bekal sebelum terjun ke masyarakat. Pelatihan yang diberikan oleh LP ia rasakan masih kurang dan cenderung bersifat formalitas saja.

sumber jawapos

keyword : , , , , , , , , , , , , , , ,

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post