Pendeta Samuel Suwarno Jaga Keharmonisan dengan Mezbah Keluarga
Jan 31st, 2010 | By Micko Henry | Category: Profil
MENDEKATKAN diri kepada Sang Pencipta tidak hanya dilakukan di tempat ibadah. Pendeta Samuel Suwarno selalu mengadakan mezbah keluarga atau doa bersama keluarga.
Aktivitas keagamaan tersebut sudah lama dilakukan bersama istrinya, Febe Sumiati. ”Sejak baru menikah pada 1981, kami melakukan (mezbah keluarga) bersama-sama,” kata pria berusia 55 tahun itu.
Awalnya, mereka hanya melakukan berdua. Sebab, setelah menikah, mereka memang tinggal berdua. Setelah anak-anak lahir, mezbah keluarga dilaksanakan bersama buah hati mereka. ”Meski anak-anak masih kecil, kami tetap mengajak mereka untuk berdoa,” ungkapnya.
Jadwalnya setiap malam sebelum tidur, mulai pukul 20.00 hingga pukul 21.00. Sebagai seorang pendeta sekaligus kepala keluarga, Samuel selalu memimpin doa. ”Berdoa cukup satu jam,” ujarnya.
Meski hanya satu jam, Samuel mengatakan, aktivitas itu membawa manfaat yang sangat besar bagi keluarga. Pertama, dari segi spriritual, aktivitas tersebut memelihara keimanan kepada Tuhan. Mereka selalu merasa dekat dengan Yang Mahaesa. ”Selalu teguh iman,” tegas Samuel tentang keuntungan mezbah keluarga yang mereka lakukan.
Manfaat kedua, menjalin hubungan harmonis antar anggota keluarga. Sebab, setelah acara doa, biasanya keluarga Samuel ngobrol. Beraneka yang dibicarakan. Acara itu juga menjadi ajang curhat sekaligus mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang dihadapi anggota keluarga. ”Kegiatan ini menjaga hubungan baik suami-istri, orang tua-anak, maupun anak dengan anak,” ucap pria kelahiran Solo tersebut.
Samuel dan Febe percaya bahwa permohonan yang disampaikan melalui mezbah keluarga selalu dikabulkan. Hal itu dibuktikan dengan banyak hal yang didapat Samuel dan keluarga selama ini.
Dia dan keluarga memiliki catatan permintaan doa yang ditulis cukup panjang. Yakni, berisi daftar hal yang diinginkan. Mulai kebutuhan primer hingga tersier. Mulai hal yang paling kecil dengan nilai nol hingga yang besar. ”Dari sekian banyak hal yang kami inginkan, hampir semuanya dikabulkan satu per satu,” imbuh Febe. ”Rumah yang kami tempati ini dulu juga kami mintakan dalam doa,” lanjutnya.
Karena itu, Samuel tak ingin meninggalkan kegiatan tersebut. Meski ada kepentingan, dia dan keluarga tetap melaksanakannya. Hanya, waktunya yang diubah. Bisa maju atau mundur. ”Tidak mudah memang mempertahankannya. Tapi, kami terus berupaya untuk mewujudkannya,” katanya.
Bahkan, dia dan keluarganya selalu memupuk rasa cinta terhadap mezbah keluarga. Mereka saling mengingatkan jadwal kegiatan rutin keagamaan tersebut. Apalagi, bila ada salah satu anggota keluarga yang belum pulang. Padahal, acara mezbah keluarga segera dilaksanakan.
Memulai Mudah, Pertahankan Sulit
SEBAGAI pemuka agama, pendeta Samuel Suwarno tentu ingin umatnya memperoleh kebaikan seperti dirinya dan keluarganya. Bapak empat anak itu tidak pernah jemu mengajak umat untuk melaksanakan mezbah keluarga. ”Saya tanamkan hal itu dalam pelayanan,” katanya.
Pria kelahiran Solo itu mengatakan bahagia. Sebab, ada sebagian umat yang mengikuti jejaknya. Dia mengatakan, mengajak umat untuk berdoa bersama keluarga tidak mudah. ”Memulainya mungkin gampang. Namun, mempertahankannya yang sulit,” ucapnya.
Sebab, lanjut dia, banyak rintangan dalam melaksanakan mezbah keluarga. Salah satunya, kegiatan anggota keluarga dengan jadwal berbeda sehingga mereka sulit bertemu dan mengadakan mezbah keluarga.
Kondisi tersebut akhirnya menjadikan doa keluarga lama-kelamaan hilang. ”Untuk mempertahankannya, memang dibutuhkan komitmen yang kuat di hati seluruh anggota keluarga,” ujar suami Febe Sumiati itu.
Febe mengakui hal tersebut. Bahkan, wanita kelahiran Ngawi itu menambahkan, tidak hanya komitmen yang diperlukan. Dukungan dan keikhlasan dari semua anggota keluarga juga dibutuhkan. ”Jadwal mezbah keluarga bisa diubah bila ada kegiatan penting lainnya,” ujar wanita 49 tahun itu.
Yang penting, lanjut dia, dalam satu hari mezbah keluarga tetap dilaksanakan. Tidak lantas mezbah keluarga berhenti atau terputus-putus hingga akhirnya tidak ada sama sekali hanya karena alasan sulit mengumpulkan anggota keluarga.
sumber JPNN
No comments yet.