HIDUP BAHAGIA Pengkotbah 9:7-12*
Nov 10th, 2008 | By ndiman | Category: RenunganSemua orang pasti ingin bahagia. Namun kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Sebab dunia tempat kita hidup ini penuh tuntutan, dingin, mahal dan tidak ramah. Kita hidup di dunia dengan ritme tinggi : tak ada waktu untuk duduk-duduk, bercanda dan bermain dengan santai. Bahkan pada saat-saat tertentu hidup ini seperti perlintasan lomba lari, sementara kita sedang mengendarai tank-yang jalannya lambat- sehingga kita tergesa-gesa untuk mengejar ketinggalan.
Sebagian besar orang bekerja keras memperoleh apa yang namanya kehidupan yang sukses. Mereka menganggap cara menuju kesuksesan itu adalah dengan menambah kecepatan, memperbesar kekuatan, persaingan ketat, berpikir lebih cerdik, perencanaan yang jauh lebih panjang dan strategi yang lebih matang, menerima pegawai-pegawai yang lebih trampil, maka dengan demikian hidup akan jadi sukses. Bangun lebih pagi, tidur lebih malam, menjadikan pekerjaan segala-galanya yang terpenting. Herannya banyak di antara kita yang terbujuk dengan itu semua. Memang, kedengarannya begitu masuk akal dan meyakinkan. Namun ada sisi lain yang masih perlu direnungkan.
Dalam Pkh. 9:11 dikatakan, “….bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.”
Jika dicermati dan diterjemahkan dari teks Ibrani, ayat ini berbunyi demikian : … bukan untuk yang cepat kemenangan lomba diberikan; bukan untuk yang kuat perjuangan dimenangkan; bukan untuk yang pandai roti itu diberikan; bukan untuk yang cerdas kekayaan dilimpahkan; bukan untuk yang terampil datangnya kuasa dan kemasyuran.
Dan itulah kenyataan hidup. Salomo mengungkap sebuah rahasia. Bahwa hidup itu tergantung pada Allah yang berkuasa (bdk. Juga dengan Maz. 127:1-2). Jika kita baca ayat selanjutnya, mereka yang tercepat, terkuat, termasyur semata-mata hanya tergantung pada seutas benang tipis berupa waktu dan ada tidaknya kesempatan. Walaupun itu tidak dapat kita baca di koran, namun ada kenyataanya. Pada akhirnya saat-Nya dan rencana-Nya (nasib/ kesempatan menurut istilah Salomo) yang akan menang. Tangan Tuhan seringkali menghasilkan sesuatu yang tidak logis dan tidak disangka-sangka.
Sekali lagi kemenangan itu tidak selalu bagi mereka yang tercepat, terkaya, atau pun yang paling berpengaruh.
Perhatikanlah kalimat Salomo berikutnya dalam Pkh. 9:12:
“Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.”
Kita boleh saja menganggap diri kita kuat. Tetapi sesungguhnya kita ini seperti “ikan yang terjala dan burung yang terjerat”. Mungkin saja segala sesuatu sudah berjalan seperti yang kita harapkan. Sukses segera tiba-seakan sudah berada di ambang pintu- jika tidak di tahun ini, ya di tahun mendatang. Segalanya telah beres dan sempurna. Namun tiba-tiba saja (di sinilah kata kuncinya) Allah membuat segala rencana kita itu terhenti. Semuanya berbalik dari dugaan dan program kita.
Charles R. Swindoll memetakan ada empat cara pandang atas hidup terkait dengan kebahagiaan :
1. Optimisme: Dengan kacamata berlapis warna indah, hidup seakan berada di pulau fantasi, berada di bawah langit cerah, dikelilingi laut cinta, semangat dan rasa aman. Golongan orang optimis selalu percaya bahwa kebahagiaan hidup bisa diraih dengan mudah. Namun sayang sekali, semua itu bukanlah kenyataan. Tidak real. Optimisme memang bukan sesuatu yang salah. Namun membuat orang berlari tak terkontrol dan akhirnya harus kecewa dan putus asa. Karena memang hidup tidak semudah itu.
2. Pesimisme: Hal buruk pasti akan terjadi, dan orang pesimis yakin akan hal itu. Ini pun tak sesuai dengan kenyataan. Hidup tak hanya berisi kesialan, namun juga hal-hal yang baik.
3. Rasa Curiga: Lebih parah dari pesimisme, mengarah pada masalah kejiwaan. Orang akan merasa :”semua orang sedang mengejar-mengejarmu, akan menangkapmu. Jangan percaya seorang pun. Dunia ini penuh penipu, pembohong, orang jahat- berhati-hatilah”. Masalah orang tipe ini adalah tidak memiliki rasa percaya. Bagi mereka hanya orangbodoh lah yang mau percaya orang lain.
4. Fatalis: “Kita harus menerima nasib, tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan untuk mengubahnya!”. Itulah kalimat yang selalu diucapkan oleh para fatalis. Masalah orang tipe ini terletak pada ketiadaan harapan- garis hidup yang sudah ditentukan dan harus diterima.
Keempat cara pandang ini dapat menjadi cermin diri kita. Namun apakah itu semua akan mengantar kita pada kebahagiaan hidup? Jawabnya adalah tidak!
Perikop yang kita baca dalam Pkh. 9:7-12 menunjukkan rahasia kebahagiaan hidup adalah sikap Realistis. Menghadapi, mengupayakan dan menerima kenyataan hidup sebagaimana adanya. Dan dengan pertolongan Tuhan, nikmatilah kehidupan! Kita diberi hak untuk meraih kegembiraan dalam hidup ini. Lalu bagaimana? Ayat 7-10 berkata : “Makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu. Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu. Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia,…..karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari. Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau pergi.”
*Oleh: Andri Purnawan, kini melayani di GKI Darmo Satelit, Sby















No comments yet.