<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKJW CARUBAN &#187; kuasa</title>
	<atom:link href="http://www.gkjwcaruban.org/tag/kuasa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gkjwcaruban.org</link>
	<description>Greja  Kristen Jawi Wetan Caruban</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 15:12:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Kuasa Guna Menyembuhkan Dunia</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/kuasa-guna-menyembuhkan-dunia.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/kuasa-guna-menyembuhkan-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 06:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[demam popularitas]]></category>
		<category><![CDATA[kuasa]]></category>
		<category><![CDATA[menyembuhkan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[ponari]]></category>
		<category><![CDATA[reg spasi Yesus]]></category>
		<category><![CDATA[rendah hati]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[Kuasa Guna Menyembuhkan Dunia refleksi atas Markus 1:28 Apa yg saudara inginkan dalam hidup? Uang? Ok. Mari kita berandai-andai. Taruhlah saat ini panjenengan memiliki uang yang sangat melimpah… Buaaanyak sekali uang yang anda miliki. Setelah uang terkumpul, maka apa lagi yang anda inginkan? Kemewahan, kelengkapan fasilitas hidup?!? Baik. Taruhlah anda mendapatkannya; rumah-beserta isinya, kendaraan, makanan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="dropcap-first"><strong>Kuasa Guna Menyembuhkan Dunia</strong><br />
refleksi atas Markus 1:28</p>
<p>Apa yg saudara inginkan dalam hidup?<br />
Uang?<br />
Ok. Mari kita berandai-andai.<br />
<span id="more-612"></span><br />
Taruhlah saat ini panjenengan memiliki uang yang sangat melimpah…<br />
Buaaanyak sekali uang yang anda miliki.<br />
Setelah uang terkumpul, maka apa lagi yang anda inginkan?<br />
Kemewahan, kelengkapan fasilitas hidup?!?<br />
Baik. Taruhlah anda mendapatkannya; rumah-beserta isinya, kendaraan, makanan, lengkap semuanya…<br />
Ok. Setelah itu apalagi yg anda inginkan?<br />
Kekuasaan? Ya.<br />
Apalagi..?!? punya uang harusnya punya kuasa tentunya.</p>
<p>Dan bukankah kuasa menjadi the most wanted things ?!. Sesuatu yang sangat dicari di masa kini? Benar bukan? Tengok saja di luaran sana. Di jalan protokol hingga jalanan berbatu di kampung-kampung banyak sekali bertengger foto manusia yang tersenyum mendamba kuasa. “Pilih saya!, Pilih partai nomor urut itu, contreng partai berlambang ini.”</p>
<p>Ini era manusia yang saling berlomba untuk mendapatkan kuasa.<br />
Apakah buruk jika berusaha mendapatkan kuasa? Tidak juga. Karena bukankah para ahli politik mengungkapkan bahwa kekuasaan pada dirinya sendiri berarti netral. Bahkan kuasa bernilai baik, jika dipergunakan demi kesejahteraan, demi membangun, demi melestarikan kehidupan.<br />
Namun sudah jadi rahasia umum jika kuasa kadang-kadang hanya diperalat saja demi menambah kapital. Nambah modal. Nambah harta. Yang lain sengsara, bodo amat. Bablas wae!  Nggih nopo boten?</p>
<p>Maka jika kita berbicara tentang kuasa, ya Yesuslah juaranya!<br />
Dalam Mrk 1:28 diungkapkan bahwa setelah terjadi peristiwa menghebohkan di rumah ibadat di kapernaum, segera saja berita tentang Yesus-yang-berkuasa tersebar dengan cepat di segala penjuru Galilea.<br />
Kuasa Yesus nampak jelas ketika Yesus mengajar, menghardik roh jahat (Mrk1:25), dan menyembuhkan. Bahkan setelah menyembuhkan ibu mertua simon, dikisahkan bahwa seluruh penduduk kota Kapernaum berkerumun di depan pintu. Yesus di cari banyak orang!</p>
<p>Ibarat sebuah magnet, seseorang yang memiliki kuasa memang cenderung menarik perhatian banyak orang untuk mendekat. Seorang bocah SD di Jombang yang bernama Ponari merupakan contoh nyata. Dia diberitakan ndak bisa sekolah, karena dicari oleh banyak orang yang memohon kesembuhan dari batu yang dimilikinya. Ponari dianggap dukun sakti yang mampu menyembuhkan, sehingga menarik perhatian orang.</p>
<p>Memang manusia yang lemah dan rentan oleh penyakit tentu secara alamiah mendambakan kesehatan&#8211;keselamatan&#8211;kebahagiaan. Lha iya siapa tho yang ndak ingin sehat? Manusia mana yang ndak pengen selamat? Semua yang normal pasti menginginkannya. Karena itulah dapat dipahami jika sosok Yesus yang penuh kuasa, begitu dicari dan dinanti oleh banyak orang.</p>
<p>Namun yang menarik, sosok Yesus yang penuh kuasa tersebut, ternyata sangat rendah hati.</p>
<p>Yesus tidak demam popularitas seperti kebanyakan manusia zaman ini, yang berlomba-lomba untuk jadi yang paling tenar dan paling dikenal.<br />
Jika misalnya Yesus hadir di tengah konteks saat ini, saya yakin tentu Yesus tidak akan tertarik untuk pasang iklan di TV : “…Jika anda berbeban berat dan berada dalam pergumulan rangkap…silahkan ketik Reg spasi Yesus, saya akan menyembuhkan segala penyakit dan luka batin anda…”<br />
Kerendahan hati Yesus tentu membuatNya jauh dari keingingan untuk dielu-elukan.<br />
Benar tidak bapak ibu saudara?<br />
Tentu benar! Lha wong setan yang mengenal siapa sesungguhNya Yesus saja dilarang untuk mem-publikasikan keberadaanNya kok&#8230; (lihat pasal 1:27, pasal 1: 34).</p>
<p>Kerendahan hati Yesus juga ditunjukkan ketika pagi-pagi benar Yesus pergi ke luar dan berdoa di tempat yang sunyi!<br />
Jika berdoa secara sederhana berarti berbincang-bincang dengan Sang Khalik, maka hanya mereka yang tidak mengandalkan dirinya sendiri-lah yang mampu berdoa.<br />
Hanya mereka yang tidak menganggap dirinya sebagai Tuhan-lah yang mau berbicara dan berkomunikasi dengan Tuhan.  Karena jika misalnya saya menganggap diri sebagai Tuhan, maka buat apa saya berdoa. Untuk apa saya harus berkomunikasi dengan Tuhan, lha wong saya ini Tuhan, begitu kan?!? Namun nyatanya Yesus tidak seperti itu.</p>
<p>Sebagai manusia yang di dalamnya Tuhan hadir dan berkarya, peristiwa Yesus yang berdoa di pagi hari, sejatinya merupakan simbol yang sangat mendalam yang mengungkapkan kesatuan intim antara manusia dengan Tuhan.<br />
Tanpa Tuhan maka manusia sirna. Tanpa Tuhan manusia tiada. Sebab itu biarlah kita dengan rendah hati senantiasa belajar untuk menundukkan diri di bawah kuasa Tuhan Allah.</p>
<p>Kerendahan hati Yesus juga ditunjukkan ketika Yesus berkata “marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana Aku juga memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang”<br />
Dengan kata lain, Yesus memilih untuk tidak menetap. Apakah berarti bahwa Yesus tidak mempedulikan banyak orang yang mencari Dia-dan meminta kesembuhan dariNya? Padahal jika menetap tentu Yesus akan bisa menjadi sangat terkenal. Tidak perlu susah-susah pasang iklan, otomatis berduyun-duyun orang datang dengan sendirinya.</p>
<p>Tidak seperti itu bapak ibu saudara. Yesus mengungkapkan bahwa kehadiranNya di tengah dunia sejatinya diabdikan untuk menyebarluaskan, memberitakan INJIL alias KABAR SUKACITA.  Jadi lebih luas dan tidak sekadar menyembuhkan saja. Karena jika hanya menyembuhkan saja maka apa bedanya Yesus dengan rabi-rabi penyembuh, dukun tiban, tabib, atau balai pengobatan? Yesus jauh lebih besar dibanding semua itu.</p>
<p>Dan kabarsukacita jelas harus dibagikan. Dibagikan berarti melakukan karya aktif memberi. Memberi juga berarti bergerak secara aktif. Karena itulah Yesus bergerak. Pergi ke kota-kota lain. Tidak tinggal diam di satu tempat, tidak stay, menyimpannya untuk dinikmati sendiri, melainkan mengalirkan berkatNya ke tempat lain.</p>
<p>…</p>
<p>Nah kini selaku pengikutNya, apakah kita juga telah mampu meneladani perilaku Yesus?<br />
Mengalirkan berkat, menyebarluaskan berita-sukacita, membagikan kasih.<br />
Mari kita melihat sekeliling kita. Dunia sedang sakit saudara!<br />
Sakit sebab terserang virus egoisme akut. Acuh tak acuh merupakan gejalanya. Cuek terhadap sesama, cuek terhadap alam semesta. Alam di eksploitasi semaunya maka bencana pun merajalela. Dimana-mana diberitakan banjir bandang, longsor, pemanasan global, perang, kekerasan. Belum lagi jika berbicara kemiskinan, kesengsaraan, penderitaan…<br />
Sebenarnya “yang sakit” selalu ada, senantiasa hadir di dunia ini.<br />
Baik sakit secara fisik maupun secara batin.<br />
Namun pertanyaannya adakah yang terbeban untuk menyembuhkannya?<br />
Adakah yang terbeban untuk keliling membagi-bagikan kabar sukacita?<br />
Mari kita lihat keluarga kita.<br />
Apakah suami, anak, istri, orang tua, mertua, menantu, kakak, adik, kekasih-tunangan sudah kita perhatikan dengan seksama? Sudahkah kita berbagi sukacita dengan mereka?<br />
Ataukah jangan-jangan kita malah memilih untuk stay. Tinggal diam. Asyik dengan diri sendiri, asyik dengan pekerjaan, asyik dengan upaya memuliakan diri sendiri?!?<br />
Mari kita lihat gereja kita.<br />
Apakah kita benar-benar mengenal  dengan baik saudara-saudara yang hadir dalam ibadah kali ini? Jika tidak kenal satu sama lain, maka bagaimana mungkin bisa menjadi persekutuan yang saling menyembuhkan bukan?!</p>
<p>Selaku pengikut Kristus, kita juga sejatinya telah dilimpahi anugerah kuat-kuasa untuk memberitakan Injil<br />
Selaku rekan kerja Tuhan Allah kita sejatinya juga dipanggil untuk mewartakan kabar sukacita dan turut menyembuhkan dunia.<br />
Karena itu, biarlah kita dimampukan untuk tidak menyia-nyiakan anugerah Tuhan dan dengan semangat berani bergerak aktif, memberi diri, membagikan kasih, menjadi persekutuan yang saling menyembuhkan!***</p>
<p>Hardiyan Triasmoroadi<br />
Caruban~di pagi buta. 2.52. AM</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/kuasa-guna-menyembuhkan-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
