<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>GKJW CARUBAN &#187; memberi</title>
	<atom:link href="http://www.gkjwcaruban.org/tag/memberi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gkjwcaruban.org</link>
	<description>Greja  Kristen Jawi Wetan Caruban</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 15:12:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Hal Memberi (Matius 6:1-6)</title>
		<link>http://www.gkjwcaruban.org/hal-memberi-matius-61-6.html</link>
		<comments>http://www.gkjwcaruban.org/hal-memberi-matius-61-6.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 09:46:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomas nugroho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gema Kepandhitan]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah rukun warga]]></category>
		<category><![CDATA[kotbah]]></category>
		<category><![CDATA[memberi]]></category>
		<category><![CDATA[pamrih]]></category>
		<category><![CDATA[persekutuan gereja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gkjwcaruban.org/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya buat, karena terinspirasi salah satu kegiatan ibadah rukun warga, yang Firman Tuhannya saat itu sama persis yang tertuliskan di atas. Namun akan saya kembangkan sedikit dengan beberapa pertanyaan yang berkembang dalam pikiran saya. Hal MEMBERI sebagai rangkaian pengajaran di bukit yang dilakukan Yesus menginspirasi seorang Kristen untuk tidak sama seperti manusia duniawi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="dropcap-first">Tulisan ini saya buat, karena terinspirasi salah satu kegiatan ibadah rukun warga, yang Firman Tuhannya saat itu sama persis yang tertuliskan di atas. Namun akan saya kembangkan sedikit dengan beberapa pertanyaan yang berkembang dalam pikiran saya.<br />
<span id="more-738"></span><br />
Hal MEMBERI sebagai rangkaian pengajaran di bukit yang dilakukan Yesus menginspirasi seorang Kristen untuk tidak sama seperti manusia duniawi. Seperti penggalan ayat pertama, dimana Yesus mengingatkan agar motivasi dasar kegiatan keagamaan (atau apapun juga) bukan untuk dipertontonkan. Bukan perkara upah atau tidak berupah.<br />
Tuhan Yesus dengan tegas mengisyaratkan hal memberi hendaklah dilakukan dengan tangan tersembunyi. Tangan tersembunyi bukan berarti tidak bertanggung jawab atas kegiatan memberi, namun lebih menggambarkan kekuatan tanpa pamrih yang didorong oleh Tuhan Yesus.</p>
<p>Sebelum saya berbicara tentang PAMRIH, ada satu hal yang menarik hati saya ketika saya berbincang dengan bapak Diaken yang saat itu membawakan firman Tuhan ini. Tentang memberi tanpa mengasihi, maksudnya adakah seseorang memberi tanpa mengasihi? Pertanyaan yang sulit bagi saya karena begitu subyektifnya pertanyaan ini. Mungkin kalau boleh saya ganti, mengasihi apakah sama dengan memberi? Atau sebaliknya, saat seseorang memberi apakah sudah bisa disebut mengasihi?<br />
Harapan saya pertanyaan awal ini juga bisa pembaca sikapi.</p>
<p>Kembali lagi tentang pamrih, kalau dalam ibadah rukun warga tersebut dilontarkan suatu pertanyaan :<strong> memberi seperti apa yang bisa membahagiakan?</strong> Para warga mulai melontarkan beberapa opini yang menurut mereka memberikan kepuasan batin saat memberi. Bermacam-macam, ada yang memberi tanpa harus melihat balasannya (walaupun sempat terlontar biar Tuhan yang membalas), memberi orang yang benar-benar membutuhkan, memberi yang sekiranya membuat penerima dan pemberi sama-sama bahagia, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Pertanyaan saya atas opini-opini tersebut, sebenarnya <strong>atas dasar kebahagiaan Tuhan atau kebahagiaan manusia?</strong><br />
Dasar kita memberi, sering kita salah alamatkan pada kebahagian manusia semata. Akan tetapi kita sering lupa, kira-kira saat kita memberi, sudahkah Tuhan Yesus tersenyum melihat pemberian kita? Jangan-jangan <strong>kita bangga dengan cara kita memberi, namun Tuhan Yesus ternyata tersenyum sinis.</strong></p>
<p>Maksudnya, saat seseorang yang kaya dan berlimpah, dan dia rela untuk membagikan hartanya, dimana nilai plusnya sebagai orang Kristen? Orang duniawipun bahkan bisa lebih dermawan. Saat orang tua yang mencukupkan kebutuhan anaknya, saat kita memberikan uang receh yang ada disaku kepada pengamen, saat kita punya rejeki lebih dan kita berbagi dengan orang tak mampu, bukankah ini hal biasa yang selalu dilakukan orang duniawi?<br />
Bisakah kita seperti janda sarfat yang merelakan rotinya untuk memberi makan Elia? Bisakah kita seperti janda yang merelakan seluruh upahnya hari itu untuk persembahan bait Allah? <strong>Andaikan orang yang sudah kita beri pertolongan malah membalas dengan kejahatan, masihkah kita mengasihi?</strong></p>
<p>Ada sebuah cerita dimana seorang ibu A, janda yang tidak miskin namun juga tidak kaya yang terkenal baik di gereja. Suatu hari di datangi oleh pak B yang secara materi lebih daripada bu A. Pak B mendatangi bu A karena suatu hal membutuhkan pinjaman uang. Maka dengan sinisnya bu A mengomentari pak B.</p>
<p><em>“Lha wong, sampeyan lebih kaya dari saya. Ngapain pinjam uang ke saya?” </em>timpal bu A.<br />
<em>“Tadi kan sudah saya jelaskan bu, saya ini terlilit hutang. Padahal hari ini anak saya harus membayar SPP. Saya cuma pinjam Rp. 300.000,- saja. Besok lusa pasti saya kembalikan, karena besok tagihan toko saya baru cair.” </em>Jelas pak B.</p>
<p>Maka pak B pulang dengan tangan hampa, karena bu A merasa berat meminjamkan uangnya.</p>
<p>Dari studi kasus ini bisa kita lihat bagaimana sebenarnya hidup sebagai murid Kristus itu dituntut lebih berkualitas daripada manusia duniawi. Dengan tanpa memandang pak B yang lebih kaya dari bu A (pendapat masyarakat). Seharusnya bu A lebih memandang ke<strong> inti permasalahan</strong>, dimana pak B memang dalam kondisi yang benar-benar membutuhkan, dan bu A memang mampu menolongnya.<br />
Bisa diartikan bu A melihat pamrih karena strata sosial, bukan karena hatinya ingin mengasihi keadaan pak B. pendapat warga gereja tentang bu A yang baik (di mata manusia) ternyata tidak teruji di mata Kristus.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan anda? Apakah KASIH anda hanya KASIH BIASA yang sering diperagakan orang duniawi, atau kasih yang benar-benar diilhami oleh pengorbanan Kristus?</strong></p>
<p><em>[samot nugroho]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gkjwcaruban.org/hal-memberi-matius-61-6.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
