The Shack, Mencari Eksistensi Tuhan lewat Sebuah Teori Trinitas
Dec 21st, 2009 | By Micko Henry | Category: Buku, Resensi
The Shack
Pengarang: William P. Young
Penerbit: Andi Publisher
Tahun terbit: 2009
Tebal: 394 halaman
PUTRI bungsu Mackenzie Allen Phillip, Missy, diculik dan dibunuh ketika keluarga itu sedang berlibur. Bukti yang menunjukkan bahwa gadis itu dibunuh secara sadis dan ditemukan di sebuah gubuk di pedalaman hutan Oregon. Empat tahun kemudian, di tengah kesedihannya, Mack mendapat secarik pesan mencurigakan yang mengundangnya untuk kembali ke gubuk itu. Meski bertentangan dengan akal sehatnya, ia tiba di gubuk pada suatu sore musim dingin dan berjalan kembali memasuki mimpi buruknya yang terkelam. Sesuatu yang tak terduga dialami Mack. Apa yang ditemukannya di sana mengubah dunianya selamanya. The Shack (Penerbit ANDI Jogja, November 2009) bergumul dengan pertanyaan yang tak lekang oleh waktu: Di manakah Tuhan dalam dunia yang sarat dengan kepedihan yang tak terkatakan? Jawaban yang diperoleh Mack akan mengejutkan pembaca novel karya William P. Young ini
Hubungan manusia terbagi dua. Yakni, horizontal yang melibat-kan sesama manusia dan verti-kal yang berkaitan dengan relasi antara manusia dan Tuhan. Nah, apa yang dialami tokoh Mack berikut bisa menjadi contoh.
SORE mendung tak menghalangi semangat bookaholic berdiskusi. Subjek bahasan Elsha Btari Andani, Yusuf Kurniawan Kusuma, Sheila Achlacul Qarimah, Tommy Andy Saputro, dan Novi Mariati kali ini adalah The Shack. Novel yang mengangkat tema religi itu membuat mereka perlu berpikir cukup keras.
Yusuf yang sejak awal tak sabar ingin menyampaikan pendapat jadi pembuka diskusi kali ini. “Hebat ya, si penulis buku itu bisa mengaduk-aduk emosi pembaca. Bayangin, seorang Mack yang dididik taat ke gereja malah jadi orang yang nggak percaya sama Tuhan,” tuturnya.
Apa yang dikatakan Yusuf langsung ditanggapi Sheila. “Iya lah, dia kan kecewa gara-gara punya ayah kasar dan pemabuk. Padahal, ayahnya selalu nyuruh dia beribadah. Maka, dia ilfil sama sosok Tuhan,” ucapnya.
Mack, tokoh sentral dalam cerita tersebut, memang mengalami pergulatan batin tentang Tuhan. Istrinya, Nan, adalah orang yang punya iman kuat, berkebalikan dengan dirinya yang meragukan kekuasaan Tuhan.
“Ditambah lagi, Missy hilang dan dibunuh orang. Lengkap sudah keraguan Mack. Dia benar-benar nggak percaya terhadap Tuhan karena dianggap nggak mampu menjaga Missy dari bahaya,” terang Sheila.
“Namun, Tuhan tidak pernah tidur,” cuap Tommy. Setidaknya, itulah yang kemudian dialami Mack. Sebuah peristiwa besar yang berawal dari sepucuk surat misterius membuat Mack bisa bertemu dengan Tuhan.
“Agak aneh sih dapat surat dari Tuhan. Yang lebih aneh, bisa dengan gampangnya ngelihat wujud Tuhan secara nyata. Sedangkan di dunia modern kayak gini, kok rasanya mustahil,” papar Elsha.
Empat bookaholic lain mengangguk setuju dengan Elsha. Wujud Tuhan yang dilihat Mack merupakan manifestasi dari teori trinitas. “Tuhan memiliki tiga nama. Itu yang aku tangkap dari cerita tersebut,” komentar Novi.
Kegigihan Mack menanyakan keraguan tentang Tuhan membawanya dalam sebuah pergolakan hebat. Salah satunya, dia protes mengapa Yesus mesti disalib. Kenapa Tuhan tidak menolong Yesus dan membiarkannya selamat?
Konflik-konflik tersebut membuat bookaholic terdiam sejenak dan sama-sama berusaha memikirkan jawaban. “Ah, mungkin dialog buku itu benar. Tuhan selalu punya rencana di luar ekspektasi umatnya. Benar-benar dialog yang cerdas dan menggigit,” ujar Yusuf.
sumber : jawapos
No comments yet.